Saturday, 31 October 2015

Cerita Timun mas dalam bahasa inggris

Long time ago in the island of Java, Indonesia, lived a couple of farmer.  They had married for some years but they had no children.  So they prayed to a monster called Buta Ijo to give them children.  Buta Ijo was a ferocious and powerful monster.  He granted their wish on one condition.  When their children had grown up, they had to sacrifice them to Buta Ijo.  He liked eating fresh meat of human being.  The farmers agreed to his condition.  Several months later the wife was pregnant.

She gave birth to a beautiful baby girl.  They named her Timun Emas.  The farmers were happy.  Timun Emas was very healthy and a very smart girl.  She was also very diligent. When she was a teenager Buta Ijo came to their house.  Timun Emas was frightened so she ran away to hide.  The farmers then told Buta Ijo that Timun Emas was still a child.  They asked him to postpone.  Buta Ijo agreed.  He promised to come again.  The following year Buta Ijo came again.  But again and again their parents said that Timun Emas was still a child.

When the third time Buta Ijo came their parents had prepared something for him.  They gave Timun Emas several bamboo needles, seeds of cucumber, dressing and salt.

‘Timun, take these things’

‘What are these things?’

‘These are your weapons.  Buta Ijo will chase you.  He will eat you alive.  So run as fast as you can.  And if he will catch you spread this to the ground.  Now go!’

Timun Emas was scared so she ran as quickly as she could.  When Buta Ijo arrived she was far from home.  He was very angry when he realized that his prey had left.  So he ran to chase her.  He had a sharp nose so he knew what direction his prey ran.

Timun Emas was just a girl while Buta Ijo was a monster so he could easily catch her up.  When he was just several steps behind Timun Emas quickly spread the seeds of cucumber.  In seconds they turned into many vines of cucumber.  The exhausted Buta Ijo was very thirsty so he grabbed and ate them.  When Buta Ijo was busy eating cucumber Timun Emas could run away.

But soon Buta Ijo realized and started running again.  When he was just several steps behind Timun Emas threw her bamboo needles.   Soon they turned into dense bamboo trees. Buta Ijo found it hard to pass.  It took him some time to break the dense bamboo forest.  Meanwhile Timun Emas could run farther.

Buta Ijo chased her again.  When he almost catch her again and again Timun Emas threw her dressing.  This time it turned into a lake.  Buta Ijo was busy to save himself so Timun Emas ran way.  But Buta Ijo could overcome it and continued chasing her.

Finally when Timun Emas was almost caught she threw her salt.  Soon the land where Buta Ijo stood turned into ocean.  Buta Ijo was drowned and died instantly.

Timun Emas was thankful to god and came back to her home.

Semogah bermanfaat...

Thursday, 29 October 2015

Cerita legenda ratu panti selatan | nyi roro kidul

Sebelum melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Misteri menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Silalahi (40 thn), spiritualis yang akan memimpin ritual tersebut.

“Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon.

Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya.

Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.

Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.

Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias.

Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.

Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.

Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.

Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.

BIDING LAUT DI TANAH JAWA

Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu.

Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga.

Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten.

Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. SelanjutnyaBiding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.

TENGGELAM DI LAUT SELATAN

Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.

Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan.

Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan.

Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.

“Dalam legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.

Sementara itu, Boru Tumorang (45 thn) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya terjadi diluar keinginannya.

Kanjeng Ratu Laut Kidul Berasal dari Tanah Batak (Bagian 2)

RITUAL PEMANGGILAN KANJENG RATU KIDUL

Untuk membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.

Lokasi pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul memang biasa muncul.

Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).

Sekitar pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca mantera-mantera. Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Belakangan Misteri mengetahui, sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.

Sementara dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal Samosir ini.

Terjadilah dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir. Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah. Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi sejumlah nasehat.

Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah

”Kenapa baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.

Ketika salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian akan percaya atau tidak.”

Selanjutnya dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:

“Boasa gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna (Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.

“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.

“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.

Tampak Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,

“Posmaruham, paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”

Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”

“Molonang muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”

“Dangdiadia dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi. Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”

Nasehat Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,

”Posmarohamu amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah. Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”

“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).

Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku,

”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”

Dialog dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat kebajikan.

Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.

Upaya penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,

“Kami tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja diperdebatkan,” lanjutnya.

Benar apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga. Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan melalui medium yang keserupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan.


Wednesday, 28 October 2015

Cerita Legenda Danau Toba bahasa inggris

Danau Toba yang dikenal akan legenda danau toba dalam bahasa inggris ini adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba menjadi salah satu objek wisata bagi turis asing yang dating ke Indonesia. Namun ternyata Danau Toba dan Pulau Samosir tersebut memiliki. Berikut legenda Danau Toba dalam bahasa inggris.

Legenda Danau Toba Versi Bahasa Inggris

Once upon a time there was a prosperous village in a far away island called Sumatra. In northern part of the island, lived a farmer whose name was Toba. He lived alone in a hut by a small forest. He worked on his farmland to grow rice and vegetables that he sells to local market. Once day he wanted to catch some fish so he went to a river and fished there. He was very surprised when he got a big fish. The fish was as big as human being. Soon he went home and put the fish in his kitchen. He planned to cook the fish for his dinner that night. When he got to his house that afternoon he took a bath. Then as he walked into his bedroom after taking a bath Toba was very shocked. Do you want to know what happened?

There stood in his living room a very beautiful girl. The girl greeted him nicely. For a moment Toba was speechless. When he could control his emotion he asked her.

‘Who are you? What’s your name? Why suddenly you are here in my house?’

‘Pardon me if I surprised you Mr. Toba, but you took me here. I was the fish that you caught in the river. Now that I become a human being again, I would like to thank you and I will be your servant to express my thankfulness’

‘Were you the fish?’

‘Yes, I was the fish. Look at your kitchen’.

Toba immediately rushed to his kitchen and the fish was nowhere to be seen. He saw some gold coins instead.

‘Whose coins are these? Why there are some coins here?’

‘Those coins are mine. As I changed into human being my scales changed into gold coins’

‘Ok you can live here and work for me. Your room is over there’

‘Thank you very much Mr. Toba’

Since that day the beautiful girl lived in Toba’s house. Since she was very beautiful Toba fell in love with her and not long after that they got married. The girl married to Toba on one condition that he would never tell anybody about her past. Toba agreed to the condition. Several months later Toba’s wife delivered to a baby boy. Their son was healthy. Soon he grew up into a handsome boy. Toba named him Samosir. Unfortunately Samosir was a lazy boy. He did not want to work at all. When his father worked hard in his rice field and farm, Samosir just slept. When he was awake he talked a lot and he ate a lot. Toba was very disappointed with his son’s nature. He hoped that one day Samosir would change into a diligent boy. Day in and day out but Samosir never changed.

Toba used to go to his farm and rice field early in the morning. Then at midday his wife would bring him food. They used to eat lunch at their farm. As he was a teenager Toba and his wife tried to change his behavior. They ordered Samosir to bring food for his father for lunch while her mother stayed at home to do household chores. But Samosir never did his duty well. He always woke up very late. He woke up after midday. Then one day his mother forced him to bring the food.

‘Sam, wake up. Go to the farm and bring the food for your father. He must be very tired and hungry now’.

But Mom, I am tired and hungry too’

‘What makes you tired? You just wake up. Go now. You father needs the food’

Toba reluctantly went to the farm. But he did not go to the farm immediately. He stopped somewhere in the street and ate the food. It was already late afternoon when he got to the farm. His father was disappointed. Then he was angry as he realized that his son had eaten his food. He said sarcastically.

‘O, you are stupid lazy boy. You are son of a fish!’

Samosir was hurt. He went home right away and as he got home he told his mother about his father’s words. Samosir’s mother was shocked. She was also deeply hurt.

‘O Toba. You break your promise so I cannot live with you here anymore. Now you have to accept to consequence of what you did. Samosir, now go to the hill, find the tallest tree and climb it’

‘Why mom? What will happen?’

‘Just do it, never ask any question. Good bye’

As soon as she finished saying that suddenly the weather changed. Sunny day suddenly turned into cloudy day. Not long after that the rain poured heavily. The rain last for several days. Consequently the area was flooded. The whole area became a big lake. Then it was called Lake Toba and in the middle of the lake there is an island called Samosir Island. Meanwhile Toba’s wife disappeared.

Legenda Danau Toba dalam bahasa inggris tersebut mengisahkan mitos yang mungkin pada jaman sekarang sudah tidak ada lagi. Namun kita bisa memetik hikmah dari legenda Danau Toba Dalam bahasa inggris tersebut. Hikmah yang dapat kita ambil ialah berhati-hati lah dengan apa yang kita ucapkan. Jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Karena lidah bisa lebih tajam dari pisau, sepatah dua patah kata dapat meninggalkan luka yang membekas di hati lawan  bicara kita. Yang kedua ialah jangan mengingkari janji yang telah dibuat. Legenda Danau Toba Dalam bahasa inggris ini memang penuh makna dan hikmah.

Semogah menginpirasi...

Cerita asal mula kota surabaya | bahasa inggris dan bahasa indonesi

The Origins of Surabaya

In old times, in incomprehensible ocean there was an incessant battle between a Shark (sura) and a Crocodile (baya). They battled one another to battle for prey in the sea. They very nearly had same quality and as of now battled such a large number of times yet nobody ever wins or loses. In the long run they both made an understanding that must be taken after. The assention was a division of chasing territory. They isolated their chasing region into two where Sura administered in water and chased amphibian creatures while crocodile managed on the area and chased area creatures. Their domain limited by the shoreline in shoreline. This assention ought not be abused by anybody.

With this understanding, there was no more battle in the middle of Sura and Baya. They both had accomodated and consented to regard every domain. Then again, this peace did not keep going long. Until one day, Sura came up short on prey in the sea. He started to sneak in streams and lakes in area. Sura additionally got land creatures which were drinking at the stream. He did this chase furtively without being known by Baya.

One day Baya asked why his prey turned less. At that point he searched for the reason and he discovered Sura was chasing in his general vicinity. It made Baya turned out to be exceptionally irate. “Why are you chasing in my region?” Baya asked in displeasure. Sura was stunned to hear Baya was irate with him, “I don’t chase in your general vicinity, I chase in waters which are my domain” said Sura. “Yet, you were chasing in stream. The stream is situated on the territory and you’re likewise eating area creatures that are my prey. You have disregarded our understanding “said Baya. “It can’t be. all water is my domain, including waterways and lakes that exist in the area!” Sura included. They both contended one another. Since there is nobody moved an extraordinary fight happened between them.

This battle is intense and appalling. Sura and Baya were slamming, jumping and gnawing one another. None creatures set out to approach or even stop their battle. This battle made all the water around them turned red in light of the fact that blood which was leaving their harmed. This battle kept going long. They kept on battling to shield domain without taking a rest by any stretch of the imagination.

In this fight Sura chomp Baya’s tail. Getting a chomp from Sura, Baya answered to nibble Sura’s tail. Two of them were gnawing the tail each other without taking it off. This occurrence kept going long until Sura was not stand any longer on the grounds that his tail almost separated. At that point Sura rushed to the sea. Baya fulfilled that he had figured out how to keep up his region. Until this day they both proceeded with antagonistic and Sura stayed away forever to waterways and lakes any longer.

The battle in the middle of shark and crocodile named Sura and Baya was extremely exceptional and important for the nearby society. In this way, the zone was given the name of Surabaya. Furthermore, this battle is made as an image of Surabaya which is the picture of sharks and crocodiles chomp their tail one another.

Artinya:

Asal Mula Kota Surabaya

Pada zaman dahulu, di lautan yang luas sering terjadi perkelahian antara Ikan Hiu (sura) dengan Buaya (baya). Mereka berkelahi satu sama lain untuk memperebutkan mangsa di lautan. Mereka memiliki kekuatan yan hampir sama. Sudah berkali-¬kali mereka berkelahi namun belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhirnya mereka berdua membuat suatu kesepakatan yang harus dijalani. kesepakatan itu adalah pembagian wilayah daerah perburuan. Mereka membagi wilayah berburu mereka menjadi dua yaitu Sura berkuasa di daerah peraiaran dan memangsa hewan air sedangkan buaya berkuasa di daratan dengan memangsa hewan hewan daratan. Wilayah kekuasaan mereka dibatasi oleh garis pantai. perjanjian ini tidak boleh dilanggar oleh siapapun.

Dengan adanya perjanjian ini, tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Baya. Mereka berdua telah berdamai dan sepakat untuk menghormati daerah kekuasaan masing ¬masing. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Hingga pada suatu hari, Ikan Hiu, Sura kehabisan mangsa di daerah lautan. dia mulai mencari mangsa di daerah sungai dan danau yang ada di daratan. Sura juga memangsa hewan-hewan daratan yang sedang minum di sungai. dia melakukan perburuan ini secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan baya.

Pada suatu hari Baya merasa heran mengapa hewan-hewan buruannya semakin sedikit. dia pun mencari tahu apa penyebabnya. kemudian Baya melihat Sura sedang berburu di daerah kekuasaanya. Perbuatan Sura ini Membuat baya menjadi sangat marah. “kenapa kau berburu di daerah kekuasaan ku?” tanya baya dengan penuh amarah. Sura pun kaget mendengar Baya marah kepadanya, “aku tidak berburu di daerah mu, aku berburu di perairan yang merupakan daerehku” jawab sura. “tetapi kau berburu di daerah sungai. Sungai itu berada di daratan dan kau juga memakan hewan-hewan daratan yang merupakan mangsaku. kau telah melanggar perjanjian kita” kata baya. “tidak bisa, semua perairan adalah wilayahku termasuk sungai dan danau yang ada di daratan!” tambah sura. Mereka berdua saling berargumen dan merasa benar. karena tidak ada yang mengalah akhirnya mereka berdua berkelahi. Terjadilah pertempuran yang hebat antara sura dan baya.

Pertarungan ini sangat dahsyat dan mengerikan. Sura dan Baya saling menerjang, menerkam dan saling menggigit. Tidak ada satupun binatang yang berani mendekat atau bahkan menghentikan perkelahian mereka. Perkelahian ini membuat semua air di sekitar mereka berubah warna menjadi merah akibat darah yang keluar dari luka luka mereka berdua. Pertarungan ini berlangsung dengan sangat lama. Mereka terus bertarung mati¬ –matian mempertahankan daerahnya tanpa pernah istirahat sama sekali.

Dalam pertarungan dahsyat ini, Sura menggigit pangkal ekor baya. mendapat gigitan dari sura, baya membalas gigitan Sura. dia juga menggigit ekor Sura. mereka berdua saling mengigit ekor masing masing dan tanpa melepasnya. Kejadian ini berlangsung sangat lama. hingga pada akhirnya Sura tidak tahan lagi karena ekornya hampir putus. Suar pun berlari kea rah lautan. Baya puas telah berhasil mempertahankan daerahnya. hingga saat ini mereka berdua terus bermusuhan dan Sura tidak pernah kembali ke sungai dan danau.

Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya yang bernama Baya ini sangat luar biasa dan berkesan bagi masyrakat setempat. Oleh karena itu, daerah tersebut diberi nama Surabaya. Dan dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar ikan hiu dan buaya yang saling menggigit.

Sekian terimah kasih...

Tuesday, 27 October 2015

Kisah Prabu Angling Dharma | Bojonegoro

Salah satu keistimewaannya adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabarata.

Di Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu, jaraknya sekityar 21 km arah barat kota Bojonegoro ternyata ada petilasan pria yang digambarkan sangat tampan dan perkasa ini. Sebenarnya, petilasan ini hanya berupa tumpukan batu bata di bawah pakon watu. Jenis tanahnya seperti bekas pemukiman.

Petilasan Angling Dharma menurut masyarakat sekitar tempat ini merupakan gapuro, di lokasi tersebut terdapat tanah embat yang selalu basah. Konon, tempat tersebut adalah kolam pemandian, tempat Setyowati bertemu Prabu Angling Dharma yang menjelma menjadi burung Mliwis Putih.

Ke arah timur dari pakon watu terdapat dataran yang agak tinggi. Konon merupakan pendopo perumahan yang menghadap ke utara.


Meski demikian hingga kini masih banyak yang meragukan tentang jejak Angling Dharma di Bojonegoro.


Terbaru, dua sumur kuno ditemukan secara tak sengaja saat pembuatan embung di sekitar Situs Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur. Situs tersebut diyakini sebagai petilasan Prabu Angling Dharma, Raja Malawapati juga. Namun berdasar pengamatan beberapa ahli, sumur kuno itu merupakan peninggalan zaman Majapahit akhir.


Pasalnya, di sekitar sumur yang berdiameter 1 meter itu dikelilingi oleh batu bata merah yang digunakan untuk dinding sumur berbentuk agak melingkar dengan ukuran 20-15 X 17 X 7 cm. “Data fisik ciri-cirinya (batu bata-red) masuk masa Majapahit akhir, karena lebih halus dan berhias,” ujar Hary Nugroho Ketua Museum 13 Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.


Menurut Hary, selain bentuk batu batanya yang lebih halus, beberapa juga ditemukan tembikar berhuruf arab sehingga makin menguatkan dugaan itu peninggalan Majapahit akhir. Sebab jaman Majapahit akhir islam telah masuk dan mewarnai kehidupan sosial. “Disekitar juga ditemukan bekas tembikar dan keramik jaman Dinasti Ming,” lanjutnya.


Lebih lanjut ia menjelaskan, sumur kuno yang diperkirakan bagian dari pemukiman lama peninggalan zaman Majapahit di area Situs Wotanngare Kalitidu Bojonegoro itu pada titik koordinat S. 06*56’394″ E. 111*46’044″. Lokasi situs, berada LK100 meter di sebelah barat dari situs pemukiman yang pernah digali 1 tahun lalu bersama Tim Balai Arkeologi Jogjakarta.


Hary menambahkan, jenis batu merah yang ditemukan itu hampir sama dengan penemuan sebelumnya di Desa Jelu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. Bata yang ada di Desa Jelu itu diduga merupakan bekas bangunan candi pintu gapura. “Sama dengan di desa jelu, ada tembikar dan huruf arab. Jadi islam sudah masuk,” imbuhnya.


Lebih lanjut, Hary mengatakan jika dikaitkan dengan dugaan sebelumnya bahwa situs tersebut merupakan petilasan Angling Dharma sangat jauh masanya. Sebab menurut beberapa sumber Angling Dharma sendiri masuk pada masa Kediri yaitu sekitar abad 10-11 Masehi. Sedangkan pada Masa Majapahit sekitar abad 13 Masehi.


Seperti diketahui, sebelumnya di sekitar situs Wotanngare ditemukan benda-benda peninggalan arkeologi dalam ekskavasi atau penggalian terhadap situs Wotanngare. Salah satunya peninggalan Artefak, fragmen grabah, pecahan kramik asing, bata dan mata uang yang ditemukan dengan kedalaman sekitar 60-80 cm dari permukaan tanah.


Ada empat petak yang digali dengan menggunakan survei arkeologi di permukaan tanah horisontal dan vertikal, diyakini masih banyak peninggalan kuno di daerah sekitar situs. Namun ayang hasil temuan benda-benda peninggalan arkeologi itu hingga kini belum mendapat perhatian khusus dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro.


Sejarah Bojonegoro

Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, masyarakatnya percaya bahwa bekas kerajaan Angling Dharmo (Malawapati) saat ini merupakan wilayah yang yang membentang mulai Bojonegoro (Rajekwesi) sampai sebagian Lamongan.


Sepertinya untuk Bojonegoro, Angling Dharma dianggap tokoh yang eksis dan turut andil dalam sejarah Bojonegoro. Ini dibuktikan dengan diabadikannya beberapa hal yang terkait dengan tokoh yang satu ini. Nama Angling Dharma diabadikan menjadi salah satu ruangan dalam pendapa kabupaten Bojonegoro. Nama kerajaan (Malawapati), istri (Setyowati) dan patihnya (Batik Madrim) diabadikan menjadi nama jalan. Bahkan belibis putih, yang diyakini sebagai penjelmaan Angling Dharma, diabadikan menjadi nama objek wisata yaitu Taman Meliwis Putih.


Terlepas versi mana yang benar, jejak tokoh ini begitu terkenal Jawa Timur dan Jawa Barat. Di Jati Gede, terdapat situs yang namanya Curug Mas, dimana salah satunya terdapat makam Embah Dalem Panungtung Haji Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari Kesultanan Mataram dan makam pengikutnya yang bernama Angling Dharma.


Di sebuah desa di Kediri, yaitu desa Banyakan ada sebuah nama yang dikenal sebagai Petilasan Angling Dharmo. Disamping itu, kisah Angling Dharma merupakan salah satu lakon yang sering dipentaskan dalam pagelaran seni Ketoprak di Jawa Timur.


Masa kehidupan sejarah Indonesia kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak abad I yang membedakan warna kehidupan sejarah Indonesia jaman Madya dan jaman Baru. Sedangkan Bojonegoro masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit, sampai abad XVI ketika runtuhnya kerajaan Majapahit, kekuasaan pindah ke Demak, Jawa Tengah. Bojonegoro menjadi wilayah kerajaan Demak, sehingga sejarah Bojonegoro kuno yang bercorak Hindu dengan fakta yang berupa penemuan-penemuan banyak benda peninggalan sejarah asal jaman kuno di wilayah hukum Kabupaten Bojonegoro mulai terbentuk.


Slogan yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak masa Majapahit ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’ tetap dimiliki sampai sekarang.


Bojonegoro sebagai wilayah kerajaan Demak mempunyai loyalitas tinggi terhadap raja dan kerajaan. Kemudian sehubungan dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak.


Raden Patah, Senopati Jumbun, Adipati Bintoro, diresmikan sebagai raja I awal abad XVI dan sejak itu Bojonegoro menjadi wilayah kedaulatan Demak. Dalam peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah kerajaan Pajang dengan raja Raden Jaka Tinggkir Adipati Pajang pada tahun 1568.


Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, Adiwijaya merasa tidak mampu untuk melawan Senopati yang telah merebut kekuasaan Pajang 1587. Maka Senopati memboyong semua benda pusaka kraton Pajang ke Mataram, sehingga Bojonegoro kembali bergeser menjadi wilayah kerajaan Mataram. Daerah Mataram yang telah diserahkan Sunan Amangkurat kepada VOC berdasarkan perjanjian, adalah pantai utara Pulau Jawa, sehingga merugikan Mataram. Perjanjian tahun 1677 merupakan kekalahan politik berat bagi Mataram terhadap VOC. Oleh karena itu, status kadipaten pun diubah menjadi kabupaten dengan wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Toemapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang pada tanggal 20 Oktober 1677. Maka tanggal, bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro.


Pada tahun 1725 Susuhunan Pakubuwono II naik tahta. Tahun itu juga Susuhunan memerintahkan agar Raden Tumenggung Haria Mentahun I memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Jipang dari Padangan ke Desa Rajekwesi. Lokasi Rajekwesi 10 Km di selatan kota Bojonegoro. Sebagai kenangan pada keberhasilan leluhur yang meninggalkan nama harum bagi Bojonegoro, tidak mengherankan kalau nama Rajekwesi tetap dikenang di dalam hati rakyat Bojonegoro sampai sekarang.



Kisah Angling Dharma;


Sebelum Angling Dharma lahir, terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan Kerajaan Hastina. Kerajaan Hastina saat itu dipimpin oleh Raja yang dikenal dengan Raja Parikesit. Semenjak Parikesit mempunyai beberapa orang putra, kehidupan disekitar kerajaan mulai memburuk karena terjadi persaingan perebutan tahta kerajaan. Raja Parikesit mewariskan tahtanya kepada putranya Yudayana. Ketika masa kepemimpinan Yudayana dimulai, kerajaan hampir mengalami kehancuran sehingga Raja Yudayana  sampai berani mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Yawasita. Perubahan nama kerajaan dilakukan bermaksud agar masa depan kerajaan yang dipimpin raja Yudayana semakin membaik. Namun kenyataannya masa depan kerajaan Yawasita tetap tidak jaya. Sehingga tahta Raja Yudayana dia berikan kepada saudaranya Gendrayana yang dulu pernah bersaing dengan Yudayana.



Pada masa pemerintahan Raja baru Gendrayana, lingkungan kerajaan semakin membaik dan mulai ada perubahan yang lebih sejahtera. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya rakyat yang mengalami kelaparan dan kemiskinan. Namun, masa kepemimpinan Gendrayana tidak terlalu lama karena dia menghukum adiknya sendiri yang bernama Sudarsana dengan dasar kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mendengar berita itu, Batara Narada atau seorang pendeta dari kahyangan yang bijaksana datang ke kerajaan Yawastita untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukumannya, gendrayana dibuang ke hutan oleh Batara Narada. Sedangkan adiknya Sudarsana dijadikan sebagai pengganti Gendrayana. Gendrayana mengajak beberapa pengikut setianya untuk hidup bersamanya dan membuat kerajaan baru suatu hari nanti.



Di dalam hutan, Gendrayana berjuang keras bersama pengikut-pengikutnya membuat sebuah kerajaan yang akan berdiri kokoh. Setelah beberapa tahun, akhirnya sebuah kerajaan berhasil berdiri atas perjuangan keras yang dilakukan Gendrayana. Kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Mamenang oleh Gendrayana. Dan raja pertama yang menduduki pada masa itu adalah Gendrayana sendiri. Bahkan sampai Ratusan tahun kerajaan Mamenang berhasil memakmurkan rakyatnya dan selalu unggul dalam persaingan dengan kerajaan Yawasita. Setelah mengalami masa kejayaan, Gendrayana dikaruniai seorang putra yang diberi nama Jayabaya. Gendrayana mewariskan tahtanya kepada Jayabaya. Sedangkan Raja Sudarsana juga menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Sariwahana. Kamudian Sariwahana mewariskan tahtanya kepada putranya Astradama karena Sariwahana tidak terlalu suka menjadi seorang raja. Pada masa pergantian tahta, kedua kerajaan ini sering terlibat dalam perang saudara. Perang saudara ini sampai bertahan hingga puluhan tahun dan tetap saja tidak selesai-selesai.



Akhirnya kedua kerajaan ini damai atas bantuan dari Hanoman yang telah bertapa lebih dari ratusan tahun. Hanoman melakukan tindakan yang berhasil mewujudkan perdamaian antara kerajaan Yawastina dengan kerajaan Mamenang dengan cara perkawinan salah satu anggota kerajaan. Yaitu Astradarma dinikahkan dengan Pramesti, Putra Jayabaya.



Setelah menikah, Pramesti bermimpi bertemu dengan Batara Wisnu. Batara Wisnu berkata bahwa dia akan dilahirkan di dunia melalui rahimnya sendiri. Dengan adanya kejadian mimpi tersebut, tiba-tiba perut Pramesti membuncit dan didalam rahimnya ada jabang bayi. Sontak Astradarma menuduh Pramesti selingkuh dengan orang lain. Sehingga Astradarma mengsusir istrinya untuk pulang kembali ke negerinya. Saat Jayabaya menemui putrinya berjalan menuju ke istananya dengan keadaan hamil dan lemas, Jayabaya sangat murka kepada Raja Astradarma. Kemudian Jayabaya mengutuk kerajaan Yawastina tenggelam oleh banjir bandang yang besar. Tak lama kutukan itu pun terjadi dan menimpa kerajaan Yawastina. Akhirnya Raja Astradarma dengan seluruh rakyatnya terhempas dan menghilang bersama istananya karena banjir yang melanda kerajaannya. Begitulah berakhirnya kerajaan Yawastina.



Setelah runtuhnya kerajaan Yawastina, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi Angling DharmaAngling Dharma merupakan bayi titisan Dewa Wisnu yang memiliki kekuatan-kekuatan yang luar biasa.Angling Dharma dilahirkan bersamaan dengan kematian kakeknya Jayabaya. Setelah meninggalnya Jayabaya, tahta kerajaan Mamenang kemudian diserahkan kepada Jaya Amijaya (Saudara Pramesti).



Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma

Pada masa kecil sampai remaja Angling Dharma sering sekali membantu sesama temannya. Dia selalu meberantas kejahatan meskipun usia Angling Dharma masih sangat muda. Banyak sekali perampok-perampok yang berhasil dia kalahkan. Sehingga dia sangat disegani oleh banyak masyarakat yang telah dibantunya. Pada saat masuk usia remaja, Angling Dharma mulai melatih dan mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan dan kekuatan dalam. Dengan dibekali keahlian sejak kecil, Angling Dharma sangat mudah mempelajari berbagai macam jurus yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Begawan Maniksutra. Dia juga diajarkan gurunya untuk berburu yang baik dan tidak merusak alam. Hanya berburu dalam waktu 30 menit,Angling Dharma berhasil melumpuhkan seekor singa yang besar.



Angling Dharma sering sekali membunuh hewan setelah dia bisa berburu. Dalam sehari, Angling Dharmaselalu membantai 3 ekor singa. Mengetahui hal tersebut, guru memarahi Angling Dharma sampai-sampaiAngling Dharma tidak mau berlatih dengan gurunya sendiri. Selama lebih dari 2 tahun, Begawan Maniksutra berhasil menguasai berbagai macam ilmu tenaga dalam dan jurus-jurus yang sangat hebat. Suatu hari Begawan memergoki Angling Dharma sedang berburu dan membawa 2 ekor singa yang diikat tali olehAngling Dharma. Begawan Maniksutra langsung menghalangi langkah kaki Angling Dharma yang penuh dengan keringat.



"Dharma! berhenti di situ!" teriak Begawan Maniksutra.

"Sedang apa kamu di sini? Menyingkirlah kamu dari jalanku," kata Angling Dharma

"Dasar anak kurang ajar! lepaskan kedua singa itu. Atau kamu ..."

"Aku apa? Saya tidak takut denganmu walau aku pernah berguru kepadamu," Angling Dharma memotong pembicaraan Begawan.

"Memang semakin besar kamu semakin kurang ajar. Rasakan i..." tiba-tiba dipotong Angling Dharma

"Rasakan apa? Saya tidak takut walaupun engkau hebat." Angling Dharma tertawa sambil melihat jurus yang dilakukan oleh Begawan Maniksutra.

"Mana ilmumu wahai guru?" Angling Dharma bertanya.

"Lihat sekelilingmu," kata Begawan. Angling Dharma terkejut melihat tali yang diikatkan ke leher singa tiba-tiba menghilang. Sontak Angling Dharma langsung berlari menghindar dari kejaran dua ekor singa yang telah diburunya. Setelah jauh berlari, akhirnya Angling Dharma berhasil lolos dari kejaran singa. Tiba-tiba Begawan Maniksutra berada di depan Angling Dharma. Angling Dharma langsung meminta kepada Begawan Maniksutra untuk menerima dirinya kembali sebagai muridnya. Selama Angling Dharma menjadi murid Begawan Maniksutra, dia diajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki Begawan Maniksutra agar bisa meneruskan ilmu untuk para pemuda-pemuda yang berjuang mempertahankan negeri.



Akhirnya Angling Dharma berhasil menguasai seluruh ilmu dan jurus-jurus yang diajarkan oleh Begawan Maniksutra. Kemudian dengan tekat dan keberanian Angling Dharma, dia ingin membangun sebuah negeri baru karena mengetahui sejarah negeri kakeknya yang dulu sering berselisih dengan kerajaan lain. Angling Dharma ingin menciptrakan sebuah negeri yang damai dan makmur bagi rakyatnya.



Setelah Angling Dharma memasuki masa dewasa, Angling Dharma berniat membawa ibunya pindah ke negeri yang telah dibangunnya sendiri. Negeri tersebut diberi nama Malawapati. Di sana, Angling Dharma memimpin negerinya sendiri dan mengatur negerinya sendiri dengan memberi gelar Prabu Angling Dharma atau Prabu Ajidharma oleh dirinya sendiri. Setelah kerajaan Yawastina mengetahui kemakmuran yang terjadi pada kerajaan Malawapati, Jaya Amijaya sebagai raja Yawastina memberikan seperempat kekuasaannya kepadaAngling Dharma untuk bermaksud memakmurkan rakyat barunya.



Walaupun dia sebagai raja, dia tetap tidak mau meninggalkan kebiasaannya untuk berburu. Angling Dharmasenang sekali berburu pada malam hari karena pada malam hari hewan-hewan sangat mudah untuk diburu. Pada saat dia berburu, ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi dari kejaran harimau. Lalu kemudian dia membawa gadis itu menuju ke tempat  yang aman dari jangkauan harimau. Selama perjalanan mereka saling berkenalan dan saling bercerita kesukaan mereka. Gadis itu ternyata bernama Setyawati yang ayahnya merupakan seorang pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Angling Dharma kemudian mengantarkannya pulang ke rumah. karena Angling Dharma merasa jatuh cinta kepada Setyawati dalam pandangan pertaa,Angling Dharma berniat untuk menjadikan Setyawati sebagai pendamping hidupnya.



Dan akhirnya Angling Dharma juga melamar Setyawati sebagai istrinya. Namun ada sedikit kendala saat akan mendapatkan Setyawati. Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah bahwa barangsiapa yang ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Mengetahui sumpah tersebut, Angling Dharmamemberanikan diri untuk melawan Batikmadrim demi mendapatkan Setyawati. Maka terjadilah pertandingan antara kakak Setyawati dengan Angling Dharma yang dimenangkan oleh Angling Dharma. Setelah itu, Setyawati menjadi permaisuri Angling Dharma dan sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.



Di lain hari, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar (Nagaraja merupakan seorang guru yang tinggal di kerajaan Yawastina). Hal itu diketahuiAngling Dharma saat Angling Dharma sedang berburu pada malam hari. Angling Dharma pun membunuh ular jantan tersebut demi kebaikan. Sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka. Nagagini kemudian menyusun sebuah laporan palsu kepada suaminya supaya membalas dendam kepada Angling Dharma yang telah membunuh temannya. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati. Namun saat menyusup ke dalam istana, Nagaraja menyaksikan Angling Dharma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Nagaraja pun muncul dan meminta maaf kepada Angling Dharma karena dia hampir saja membunuh Angling Dharma



Pada saat itu juga Nagaraja mengakui bahwa dirinya akan meninggal karena dia telah memasuki masa moksa (Moksa adalah masa dimana arwah seseorang akan pergi dari raganya dan bereinkarnasi menuju ke manusia yang akan dilahirkan). Kemudian Nagaraja mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepadaAngling Dharma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut, Nagaraja pun meninggal. Jenazah Nagaraja kemudian dibawa ke rumah istrinya oleh Angling Dharma dan Angling Dharma menjelaskan kepada Nagagini apa yang sebenarnya terjadi sebelum suaminya meninggal.



Semenjak Angling Dharma mewarisi ilmu baru dari Nagaraja, dia dapat mengerti bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung karena dirinya tidak pernah diperhatikan oleh suaminya semenjak dia memlihara banyak hewan dari hasil perburuannya.Angling Dharma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng. Hal itu membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi oleh Angling Dharma. Angling Dharma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahasia ilmunya. Ketika upacara pembakaran diri digelar, Angling Dharmasempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dari percakapan itu Angling Dharma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan yang tidak tepat dan bisa merugikan rakyat banyak.



Setelah kematian istrinya yang tragis, Angling Dharma menjalani hukuman buang untuk beberapa waktu sebagai penebus dosa. Hukuman itu meruupakan permintaan dari rakyatnya sendiri. Karena Angling Dharmatelah mengingkari janji setia sehidup semati dengan istrinya sendiri. Walaupun Angling Dharma dihukum, dia tetap tidak lengser dari kursi rajanya. Kemudian Angling Dharma menitipkan istananya kepada Batikmadrim selama dia menjalani hukuman.



Dalam perjalanan, Angling Dharma bertemu tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Angling Dharma dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkan mereka.  Selama mereka saling mengenal, Angling Dharma meminta tolong kepada tiga putri tersebut untuk memberikan sebuah tempat tinggal untuknya. Akhirnya ketiga orang putri tersebut memberikan tempat tinggal untuk Angling Dharma. Namun semenjak tinggal bersama dengan tiga orang putri, Angling Dharmamerasa ada yang ganjil saat putri-putri sering keluar pada malam hari. Kemudian Angling Dharma menyamar sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam mereka selalu berpesta makan daging manusia. Akhirnya kecurigaan Angling Dharma sudah terbukti. Tiga orang putri tadi merupakan penyihir yang suka memangsa manusia sebagai makanannya.



Saat Angling Dharma ketahuan sedang mengintip kegiatan mereka yang sedang makan daging manusia,Angling Dharma pun berselisih dengan mereka. Namun kekuatan Angling Dharma masih dapat dikalahkan oleh 3 orang penyihir. Akhirnya ketiga putri tadi mengutuk Angling Dharma menjadi seekor belibis putih. Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Di sana, ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Jaka Gduk terkejut saat dia mengetahui belibis putih mampu berbucara kepadanya.



Pada saat itu, Darmawangsa yang sebagai raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan yang di mana kasusnya merupakan seorang wanita bernama Bermani mempunyai dua orang suami yang berwujud sama dan bernama sama, yaitu Bermana. Kemudian pemuda desa tadi datang sambil membawa belibis putih untuk membantu raja dalam mengadili Bermani. Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.



Keberhasilan Prabu Angling Dharma

Walaupun Angling Dharma telah berwujud belibis putih, dia sebenarnya bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Namun Angling Dharma merahasiakan kelebihannya itu kepada siapapun kecuali Ambarawati. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia sehingga mereka berdua saling jatuh cinta. Mereka akhirnya menikah tanpa sepengetahuan orang tua Ambarawati. Dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.



Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat dalam setiap kebingungan raja selalu ada jalan keluar dengan adanya orang ketiga. munculah seorang pertapa sakti yang bernama Resi Yogiswara mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati. Yogiswara kemudian mencari pelakunya. Resi mencurigai dengan adanya seekor belibis putih yang memiliki sebuah kalung yang sama seperti kalung Angling Dharma. Kemudian Resi Yogiswara menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan yang sengit, belibis putih kembali ke wujud semula yaituAngling Dharma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim yang sebenarnya adalah untuk menjemput Angling Dharma yang sudah habis masa hukumannya.



Raja Darmawangsa justru menerima perlakuan Angling Dharma terhadap putrinya dan merestui hubungan mereka. Sehingga raja Darmawangsa melakukan acara pernikahan besar untuk menyambut Angling DharmaAngling Dharma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan mereka, akhirnya lahir seorang putra yang bernama Anglingkusuma. Angling Kusuma akan menjadi penerus raja di kerajaan Bojanagara dan menggantikan kakeknya tersebut. Namun, selama Angling Kusuma menjadi raja, dia mempunyai musuh bernama Durgandini dan Sudawirat yang ingin menjatuhkan kerajaan Bojanagara.



Setelah kembalinya Angling Dharma ke Malawapati, kerajaan Angling Dharma berjaya dan mampu membantuk putranya dalam memerangi musuh-musuhnya dan akhirnya mereka berhasil menaklukan musuh-musuhnya. Dan saat itulah sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma. Dan sedangkan Durgandini bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.

                                                  |  Sekian terimah kasih |

Semogah cerita ini menginpirasi andah...

Lengeda | Kisah 9 Wali Penyebar agama islam di pulau jawa

“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.



Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.


Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

 Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n

 Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

 Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

 Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya

setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah

yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.


 Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

 Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

 Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

 Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

 Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.



Sunday, 25 October 2015

Cerita Lengada Candi Prambanan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris


Legenda candi prambanan:

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.


Bahasa inggris↓


Legend of Prambanan:

It is said that is exactly a king named King Baka. He was enthroned at Prambanan. The king of a giant terrifying and great power. Even so, when it's destiny, finally he lost also the King Pengging. King Baka died on the battlefield. King Pengging victory was due to the help of a strong man who named Bondowoso is also known as Bondowoso because he has a powerful weapon called Bandung.

With the consent of the King Pengging, Bondowoso occupy Prambanan Palace. Here he was fascinated by the beauty of Lara Jonggrang, daughter of former opponents - yes, even the daughter of the murdered king. however, he will take her in marriage.

Lara Jonggrang afraid reject the proposal. However, he will not take it for granted. He wants to marry Bondowoso long as the terms are met. The requirement is that he be made a thousand temples and two deep wells. Everything should be completed overnight. Bondowoso agreed, though somewhat objections. He asked for the help of his father, the powerful army which has fine spirits.

On the appointed day, and their faithful Bondowoso and spirits began to build the temple are large in number. It is astounding the way and speed of their work. After four in the morning only five temples to be prepared. In addition, the well was already almost finished.

All the inhabitants of the Palace of Prambanan be confused because they are sure that all requirements will be met Lara Jonggrang. What should be done? Soon the girls were woken up and told to pounding rice in a mortar and laying flowers are fragrant. Hearing the sound of mortar and smell the flowers are fragrant, fine spirits stop their work because they think it was already noon. Making less than a temple, but what about to say, spirits and stopped doing his job without their help may not Bondowoso finish.



The next day Bondowoso time knowing that his efforts failed, not playing angry. He cursed the girls around Prambanan - there will be no one who wanted to marry them until they become old maids. While Lara Jonggrang himself cursed into a statue. The statues are in a great temple which until now named Lara Jonggrang temple. The temples that were nearby called Sewu which means thousand.

Friday, 23 October 2015

2 Cerita Legenda Jaka Tarub and Damar Wulan | Bahasa Inggris


Jaka Tarub: was a handsome and diligent young man. He lived in a village near a lake. One day, when Jaka Tarub passed the lake, he heard some giggles and laughs of some girls who were bathing in the lake. He was curious, so he peeped through the bushes. There were seven beautiful girls in the lake. They’re fairies from the heavenly kingdom of kahyangan. Jaka Tarub saw a scarf near the bushes. It belonged to one of the fairies. Jaka Tarub then took it and hid it.


Crack!!! Accidentally, Jaka Tarub stepped on a twig. “There’s someone!” said one of the fairies. “Let’s get back. Hurry!” she said. They pulled over and wear their scarf. “Where is my scarf?” one of the fairies couldn’t find her scarf. She was the youngest fairy called Nawang Wulan. They tried to search for it, but it was no where to be found. “We’re sorry, Wulan. We have to go back to kahyangan,” said the eldest fairy. “You’ll have to find it by yourself. We’ll wait for you in kahyangan,” she said in empathy. The other fairies then flew to the sky leaving Nawang Wulan behind. Nawang Wulan saw them leaving in tears. She was so sad.


“Excuse me …,” said Jaka Tarub, startling Nawang Wulan. “Are you okay?” he asked. Nawang Wulan moved backward, “Who are you?” she asked. “My name is Jaka Tarub. I was passing by and I heard you crying, so I came to see what happen,” Jaka Tarub lied. Nawang Wulan then told him about her problem. “I can’t fly without my scarf,” she said. Jaka Tarub then asked Nawang Wulan to come home with him. At first, Nawang Wulan refused the offer. But since she didn’t have anywhere else to go, Nawang Wulan then decided to follow Jaka Tarub.


Nawang Wulan stayed with Jaka Tarub in the village. A month passed, and they decided to get married. Nawang Wulan was willing to marry a human because she fell in love with Jaka Tarub. After a year, they had a beautiful daughter. They named her Kumalasari. They lived happily.


Jaka Tarub was also happy to live with Nawang Wulan and Kumalasari. Especially because he always got a lot of harvest since he married Nawang Wulan. He couldn’t even keep all of his harvest in the barn because it was always full. “It’s so weird. Nawang Wulan cooked everyday, but why is my barn always full,” Jaka Tarub mumbled to himself. He was so curious. One day, Jaka Tarub stayed at home. “I want to stay home today. I’d like to play with Kumalasari,” he said to his wife. “Well, I’ll go to the river to wash the clothes. Please keep an eye on Kumalasari,” asked Nawang Wulan. “I’m cooking rice now. Please do not open the pan cover before it’s done,” she said just before she left. “Could this be the secret?” Jaka Tarub thought. After Nawang Wulan left, he curiously opened the pan cover. He found only one single paddy. “How come?” he wondered.


Before lunch, Nawang Wulan came home. She headed to the kitchen to see the rice she had cooked. She found that the rice turned into only a few grains. “Did you open the pan cover?” she asked her husband. “I… I’m sorry. I was curious,” Jaka Tarub said as he realized his fault.


Ever since, Nawang Wulan had lost her power. She couldn’t cook rice with only a single paddy. Their paddy supply was slowly lessened. Their barn was almost empty. One day, Nawang Wulan went to the barn to get some paddy. When she took one of them, she found a scarf. “What’s this? This is my scarf,” said Nawang Wulan startled.


That night, Nawang Wulan asked her husband about the scarf. Jaka Tarub’s eyes widened, “You found it?” he asked. Jaka Tarub looked down and asked for her forgiveness. “Because I’ve found my scarf, it’s time for me to go back to where I belong,” Nawang Wulan said. Jaka Tarub tried to stop her, but Nawang Wulan had made up her mind. “Please take good care of Kumalasari,” she said. “If she wanted to see me, take seven grains of candlenut and put it into a basket. Shake it as you play the bamboo flute. I’ll come to see her,” she explained.


Jaka Tarub promised to take good care of their daughter. He once again asked for forgiveness for all of his mistakes. “I’ve forgiven you, so you don’t have to feel guilty. I must go now. Take care,” said Nawang Wulan as she flew to the bright full moon.***

DAMAR WULAN:

Damar Wulan was born in the village of Paluh Amba, not far from the capital city of Majapahit. He was the son of Udara, the former prime minister of Majapahit. Since his father had retired his family live in a quiet and prosperous village outside the capital. Damar was a smart boy so he could easily learned the lessons his father taught him. He learned martial art, religion, politics, and literature. He was very good at all those subjects. When his father thought that he is mature enough, he asked Damar to find job in Majapahit. He told Damar to apply for a job at the Prime Minister's office. He hoped that his close relation with the new prime minister would help him get the prime minister's attention. Furthermore Damar was a smart boy so his father was sure Damar was capable to do any job.

Damar was very confident he would get a good position at the prime minister's office. Early morning he left his village. At midday he got to Majapahit and he directly went to the prime minister's house. Prime Minister Logender was his name. The guards sarcastically questioned him when he told them he would see the prime minister.
'Who do you think you are?'
'I am Damar Wulan. I am the son of the former prime minister Udara. My father told me to see the prime minister here'
'If you think you can impress us by telling us about your father, you are completely wrong poor boy. The son of a prime minister would never go anywhere on foot'
'But, that's true. My father told me to find job here'
'Listen poor boy, the prime minister is a very busy person. He does not have time for job seeker like you. But if you need a job, there is a vacant position here. Let me report my chief'

Then the soldier reported to his superior. After that someone called Damar to get into the commander's chamber. He told Damar that the prime minister's office needed several boys to take care of the horses. Damar was surprised because he expected clerical job but then he accepted the offer. Since that day he lived in a simple hut behind the prime minister's house.

Damar did a good job so his superior was satisfied with him. He was also very sociable. Soon he had a good relationship with the prime minister and his family. The prime minister had two sons - Layang Seto and Layang Kumitir and a daughter - Anjasmoro. His sons were very arrogant and lazy. They treated Damar cruelly. They wanted Damar to do whatever they want. Every body hated them but nobody dare to express their feeling. Anjasmoro, on the other hand, liked Damar very much. Gradually she fell in love to Damar. So did Damar. They had a secret love. When Layang Seto and Layang Kumitir knew what happened to Damar and Anjasmoro, they were very angry. They treated Damar more and more cruelly.

At the time the kingdom of Majapahit faced a very serious problem because of the rebellion of Menak Jinggo. He was a half brother of the Queen Kecono Wungu. He was a prince of Majapahit and a highly respected general of the Majapahit army. For his great achievement for his country his father appointed him as the ruler for the kingdom of Blambangan, a vassal state under Majapahit. When his father passed away he was sure that he would become the successor. But he was very disappointed when his father appointed his sister instead. He thought that he was more capable than Kencono Wungu so he rebelled.

Menak Jinggo proved to be a good general. Under his leadership the Blambangan army could win several battles with Majapahit army. The territory of Majapahit one by one fell to Blambangan. At the time the morale of the Majapahit army was already down. They were not sure that they could win the war. So the queen and the prime minister met everyday to discuss the worsening situation. Some weeks went by but still they did not have any ideas to solve the problem. Every report they received about the war was only about the defeat of the Majapahit army.

Prime Minister Logender was shocked when his wife reported to him about the affair of Anjasmoro and Damar Wulan. For a highly respected person like him, it was a very serious blow to his ego. He was a very respectable person while his daughter dated with a poor boy. It was a serious humiliation. He could not accept it. This fact made him very angry. He thought very hard to find a solution. Suddenly an idea struck his sharp mind when he was meditating at midnight.

Early in the morning he went to the palace and asked the queen for an audience. Then he explained his plan.
'Your Majesty, last night I had an idea'
'Tell me about it'
'Our army could not win because we apply a wrong strategy. The Blambangan army is very good at a frontal open warfare like that. Furthermore our army's morale is now down. So we have to avoid open warfare. Since now on we have to launch a new tactics of secret operation. We must send a small army unit to kill Menak Jinggo secretly'
'Who will do that?'
'I have a body guard. His skill in martial art is excellent. He is very capable at individual fight. So he is ready for this duty. I am sure he is the right person'
'OK, I think you are right. Send him as soon as possible to Blambangan. If he can do his job well I will give him great reward'

When Logender got home he called Damar Wulan immediately. He asked him about his martial art skill. Damar said he had mastered some fighting skill. His father had trained him Pencak Silat, the Indonesian martial art. As a result, he was very skillful at using sword, lance, as well as empty hand fighting technique. Then Logender asked him to fight both Layang Seto and Layang Kumitir. Both of them fought emotionally since they hated Damar very much. But Damar was smart, skillful, strong and tough. In just several minutes he could beat both of them without difficulty. Logender was angry but also satisfied since he found a way to get rid of both problems - his home and his country.
'Damar, you are a great fighter. I am very proud of you. And that's why you will receive a great honor to fight for your country. Now there is a rebellion in Majapahit. The king of Blambangan has done a crime. His name is Menak Jinggo. Find him in his palace and Blambangan and kill him. Are you ready?'
'I am ready any time Sir'
'Good. Today you have to prepare everything and tomorrow you must leave for Blambangan secretly. Do not tell any one about this duty. Not even Anjasmoro. Don't be afraid because the Majapahit army will fully support you. They will back you and provide all your needs. When you can kill Menak Jinggo behead him and bring his head here. If you can do this job well you will be promoted to a high position as the commander of Majapahit army'
'Yes, Sir. I am very glad to receive this order. I will do my best'

The next day, very early in the morning Damar Wulan left Majapahit alone. Meanwhile Prime Minister Logender had implemented his own plan. He prepared a small army unit under the leadership of his two sons. They went behind Damar in a distant so that Damar did not notice them. They went secretly so no one knew it. Their task was not to protect Damar but to kill him and seize the head of Menak Jinggo if he could kill Menak Jinggo. But if Damar was killed then they had nothing to do.

Several days later Damar Wulan arrived in Blambangan. The Majapahit army kept on spying on him. They were surprised to see Damar did not directly attack the palace. He applied for a job instead. Once again he was accepted to work in the palace to take care of the horses. Everybody including the king Menak Jinggo liked him because he was very polite and he did his job well. He was also very handsome that two of the king's wife fell in love with him. Waito and Puyengan were the wives of King Menak Jinggo.

As everybody trusted him, it was easy for Damar to search the palace. He knew where Menak Jinggo lived. One night he secretly jumped the palace wall to kill the king. Finally he was inside the king's bedroom. But unfortunately the king was ready to welcome him. A small army unit was there to arrest him. He was no match for Menak Jinggo. But Menak Jinggo was a smart person. He did not kill Damar instantly. He wanted to gather information from him. So he ordered his guards.
'Don't kill him. Let him alive, treat him well. I will question him tomorrow'.
'Yes, Your Majesty'

He ordered his men to treat him well. He even let Waito and Puyengan to see Damar. By doing so he hoped that Damar would give him valuable information. But Damar was also a smart person. He dated Waito and Puyengan and he asked them the way to kill Menak Jinggo. Since the two women loved Damar they revealed a secret.
'Nobody can hurt him. He is a tough guy and he is protected by god. God gave him a secret weapon called Wesi Kuning'
'What is that?'
'That's a golden amulet. It is just a small amulet, as small as a thumb but it is very powerful. Its shape is like a stick. It is stored in his bedroom'
'He is a dangerous man. We have to stop him. Could you help me find his amulet?
'I will help you if you marry me'
'Sure I will marry both of you as soon as I can arrest him'

When their turn to amuse the king arrived Waito and Puyengan could get into the kings chamber. They used that opportunity to steal the amulet. Then they gave it to Damar Wulan. Menak Jinggo did not realize their conspiracy. When the night was very quiet they opened the door for Damar Wulan. There was a fight but it was too late for Menak Jinggo. The sudden attack did not give him much chance to survive. Consequently Damar could beat his enemy and Menak Jinggo was beheaded.

Damar Wulan immediately left Blambangan palace that night while promising Waito and Puyengan to be back after he received the rewa.


Sunday, 18 October 2015

12 Cerita legenda rakyat indonesia dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia

In the ancient time, lived a little family. The family consists of father, mother, and a beautiful girl named Garlic. They are a harmonious and happy family despite his father worked as an ordinary merchant. One day, the happiness in this family was lost because the mother died. Garlic was very sad because she was very fond of her mother. Her father was also so sad because he loved his wife so much.


After Garlic’s mother died, her house was visited frequently by a widow who had a daughter named Onion. The widow often came with Onion to the Garlic’s home by bringing food, helping to clean the house, and chatting with Garlic’s father. Finally, the father thinks that he should marry the widow and made the widow as a new mother for Garlic.


He asked for consideration of the proposal to Garlic. After being allowed to get married by Garlic, then her father immediately carried out the marriage. They become a new family and lived in a house. At first, the mother and Onions behaved Garlic very well. However, the good behavior did not to be last long. Soon, the Onion and her mother began to show their bad attitude. Garlic was often scolded and given heavy works when the father went to trade. She had to do a lot of housework while the Onions just sit and did not work at all. However, the situation was never told by her to his father, so the Garlic continued to be treated badly by Onions and her mother.


One day, his father was sick and passed away. Since then, Garlic was treated worse than before. Garlic almost never had a break every day. In the morning, she had to get up in order to prepare breakfast and the water for Onion and her mother. Later, she also gave eating to the livestock, washing clothes, and even watering the entire garden. Although she should do so many works, she always did it happily. She hoped, with such sincerity, her mother would love her sincerely someday.


On the morning, Garlic went to the river to wash the clothes. She was so excited and washed vigorously. Because of getting too excited, she was not aware that there was a shirt that washed away. She realized that the shirt had been washed away when the flow carried it far enough. Later, she pursued but did not get the shirt. She felt hopeless and immediately went home.


The shirt was her mother's favorite. Of course, the mother was angry and told her to look for the shirt until she could found it. Garlic came back to the river and walked to the west to seek her mother's favorite shirt. She walked along the river up to tens of kilometers. After that, Garlic suddenly saw someone who was bathing the buffalo in the river. She asked the man about the clothes were washed away. Later, she was informed that the shirt drifting and it was not far from where she was standing. At that moment, Garlic immediately ran down the river to find the shirt.


It was getting dark and the Garlic found a home. Because of completely exhausted, she decided to take a break in the house. Apparently, it housed an old lady who had previously found the shirt. The old lady wanted to return the shirt to her, but she should accompany the old lady during a week. She agreed to stay with the lady for a week. Within a week, she made the old lady to be so happy because she was diligent and never complained even though felt so tired.


After accompanying for a week, she was given a pumpkin as the gift. When opening it, she was very surprised because there were so much gold and gems. She immediately went home and told the happening to her mother and also Onion. However, the gold and jewels that she got immediately seized and she was forced to tell where the jewelry could be obtained. Garlic immediately said that she got it from an old lady who lived near the river.


In the next day, Onion came to that house and stayed for a week like what Garlic did. However, because Onion was a lazy girl, the old lady gave a different pumpkin from Garlic. Onion did not care and Onion immediately went home to open the pumpkin with her mother. Apparently, the content was not gems or gold, but the venomous snake that bit of Onion and the mother. Both of them died because of their greed.


After the happening, Garlic was living alone, but she was more calm and lived happily with its gold and gems.


Terjemahan :Bawang Merah dan Bawang Putih

Pada zaman dahulu, ada sebuah keluarga kecil yang hidup bahagia. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan seorang gadis cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang harmonis dan bahagia meskipun sang ayah hanya bekerja sebagai seorang pedagang biasa. Suatu hari, kebahagiaan yang ada di dalam keluarga tersebut hilang karena sang ibu meninggal. Bawang putih sangat sedih karena ia sangat menyayangi ibunya, begitu juga sang ayah yang sangat sedih karena sang istri telah meninggal.


Setelah ibu bawang putih meninggal, rumahnya sering dikunjungi oleh seorang janda yang mempunyai anak bernama bawang merah. Ibu bawang merah sering datang ke rumah bawang putih dan membawakan makanan, membantu membersihkan rumah, dan mengobrol dengan ayah bawang putih. Akhirnya, ayah bawang putih berpikir bahwa sebaiknya ia menikah dengan janda tersebut dan menjadikannya sebagai ibu baru untuk bawang putih.


Ia meminta usul dan pertimbangan dari bawang putih. Setelah diizinkan untuk menikah oleh bawang putih, maka sang ayah segera melaksanakan pernikahan dengan ibu bawang merah. Mereka menjadi sebuah keluarga baru dan tinggal di rumah tersebut. Pada awalnya, ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik terhadap bawang putih. Namun, perilaku baik tersebut tidak bertahan lama. Lama-kelamaan bawang merah dan ibunya mulai menunjukkan sikap buruk mereka. bawang putih sering dimarah dan diberikan pekerjaan berat ketika sang ayah pergi berdagang. Ia harus mengerjakan banyak pekerjaan rumah sementara bawang merah hanya duduk dan tidak bekerja sama sekali. Namun, keadaan tersebut tidak pernah diceritakan olehnya kepada sang ayah, sehingga bawang putih terus diperlakukan secara buruk oleh bawang merah dan ibunya.


Pada suatu hari sang ayah sakit dan meninggal dunia. Sejak saat itu, bawang merah dan ibunya  memperlakukan bawang putih semakin buruk. Bawang putih hampir tidak pernah istirahat setiap hari. di pagi hari, ia harus bangun untuk mempersiapkan air dan sarapan bagi bawang merah dan ibunya. Kemudian, ia juga harus member makan ternak, mencuci baju, dan bahkan menyirami seluruh kebun. Meskipun pekerjaan yang harus ia kerjakan begitu banyak, namun bawan putih melakukan semua itu dengan gembira. Ia berharap, dengan keikhlasan tersebut, sang ibu mau menyayanginya dengan tulus dan menganggapnya sebagai anak kandung.


Pada suatu pagi, bawang putih pergi ke sungai untuk mencuci baju. Dia begitu gembira dan mencuci dengan penuh semangat. Karena terlalu semangat, ia tidak sadar bahwa ada sebuah baju yang hanyut. Ia menyadari bahwa baju tersebut hanyut ketika telah terbawa aliran yang cukup jauh. Kemudian, ia mengejarnya dan tidak mendapatkan baju tersebut. Ia merasa putus asa dan segera pulang ke rumah.


Baju tersebut merupakan baju kesayangan ibu bawang merah. Tentu saja, sang ibu marah dan menyuruhnya untuk mencari baju tersebut hingga ditemukan. Bawang putih kembali lagi ke sungai dan berjalan ke arah barat untuk mencari baju kesayangan ibunya. Ia berjalan menyusuri aliran sungai hingga puluhan kilometer. Setelah itu, bawang putih tiba-tiba melihat seseorang yang sedang memandikan kerbau di sungai. Ia bertanya kepada orang itu mengenai baju yang hanyut. Kemudian, ia mendapat informasi bahwa baju ibu bawang merah hanyut namun baju tersebut tidaklah jauh dari tempatnya berdiri. Saat itu juga, bawang putih segera berlari menyusuri sungai untuk menemukan baju tersebut.


Hari semakin gelap dan bawang putih menemukan sebuah rumah. Karena sangat lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di rumah tersebut. Ternyata, di dalamnya tinggal seorang nenek yang sebelumnya sudah menemukan baju milik ibu bawang putih. Sang nenek ingin mengembalikan baju tersebut kepada bawang putih, dengan syarat bawang putih harus menemaninya selama seminggu. Bawang putih begitu iba dengan nenek tersebut, dan ia setuju untuk tinggal bersama sang nenek selama seminggu. Dalam waktu satu minggu, ia membuat nenek tersebut amat gembira karena bekerja dengan rajin dan tidak pernah mengeluh.


Setelah bawang putih menemani sang nenek selama seminggu, ia diberikan satu buah labu sebagai hadiah. Ketika membuka labu tersebut, ia sangat terkejut karena didalamnya terdapat emas dan permata yang begitu banyak. Ia segera pulang dan memberitahukan kejadian tersebut kepada sang ibu dan juga bawang merah. Namun, emas dan permata yang ia dapatkan segera direbut dan ia dipaksa untuk memberitahukan dimana perhiasan tersebut dapat diperoleh. Bawang putih segera mengatakan bahwa ia mendapatkannya dari seorang nenek yang tinggal di dekat sungai.


Esok hari, bawang merah datang ke rumah nenek tersebut dan tinggal selama satu minggu. Namun, karena bawang merah adalah gadis yang malas, maka sang nenek memberikannya labu yang berbeda dari bawang putih. Bawang merah tidak peduli dan ia segera pulang dan membuka labu tersebut bersama ibunya. Ternyata, isi labu tersebut bukanlah permata atau emas, namun ular berbisa yang menggigit bawang merah dan ibunya. Kedua orang tersebut meninggal karena keserakahannya.



Bawang putih kini hidup sendiri namun ia lebih tenang karena tidak ada lagi orang yang menganggunya. Ia hidup bahagia dengan emas dan permata yang dimilikinya.



 The Golden Slug (Keong Mas)


In the ancient time, lived a young man named Galoran. He was respected because of his wealth and honor. His parents were nobleman so he could live with luxury. However, he was very wasteful and every day just squandered the wealth of his parents.


One day, his parents died, but he did not care and continued to spend money as well as before. Because his life was so extravagant, all the treasure that he had was running out and he became an unemployed person. Many people sympathized with him and offered a job. But every time he got the job, he just dallied and it made him always be fired. Several months later, there was a wealthy widow who interested him. He married the widow and of course, he was very happy to be living in luxury again.


The widow had a daughter who was very diligent and clever to weave. Her name is Jambean, a beautiful girl and had been famous because of her weaving. However, Galoran did not like the girl, because the girl often scolded him because of his laziness. Finally, he threatened to torture and kill Jambean. He revealed the plan to his wife and the wife was very sad to hear of the threat.


Hearing the news, Jambean was very sad but she volunteered herself to be killed by her father. She told that she wanted to be dumped into a dam and did not burry under the ground after the death. The mother agreed and did all of her wants. In the dam, her body and head suddenly turned into the golden slugs.


Several years later, there are two widows who were looking for firewood. They were kindred, the first widow named Mbok Sambega Rondo and the second called Mbok Rondo Sembagil. When looking for the firewood in the jungle, they were very surprised because of finding the beautiful golden slugs. They brought it and maintained at home.


Once they brought the snails, there was always a miracle every day. Their kitchen was always filled with the delicious food when they came home from work. They were very surprised, and wanted to know the person who made those foods. They pretended to go to work and hid in the back of the house. A few moments later, there was a beautiful girl came from the inside of the conch and she began to cook the delicious meals.

Both widows then secretly held and did not let the girl to get into the snail anymore. The girl apparently was Jambean who had been killed by her father. Both widows then allowed her to stay with them. Because of their versatility in weaving, she got her famous back and made a handsome prince attracted. In the end, she married the prince and lived happily.




Terjemahan :

Keong Mas


Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda yang bernama Galoran. Ia merupakan salah satu orang yang disegani karena mempunyai kekayaan dan kehormatan. Orang tuanya merupakan bangsawan sehingga ia dapat hidup dengan mewah. Namun, ia merupakan seseorang yang sangat boros dan setiap hari hanya menghambur-hamburkan harta orang tuanya.


Suatu hari, orang tuanya meninggal dunia namun ia tidak peduli dan terus menghabiskan uang seperti sebelumnya. Karena hidupnya begitu boros, maka harta yang ia miliki habis dan ia menjadi seorang pengangguran. Banyak warga yang iba terhadapnya, namun setiap kali ia mendapatkan pekerjaan, ia hanya bermalas-malasan dan membuat ia sering dipecat. Beberapa bulan kemudian, terdapat seorang janda kaya raya yang tertarik dengannya. Ia kemudian menikah dengan janda tersebut. Tentu saja, ia sangat senang karena bisa hidup mewah seperti sebelumnya.


Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun. Namanya  Jambean, seorang gadis yang tenunannya sangat indah dan terkenal di desa tersebut. Namun, Galoran tidak menyukai gadis tersebut, karena sang gadis selalu menegurnya karena selalu bermalas-malasan. Karena begitu benci dengan Jambean, ia mengancam akan menyiksa dan membunuhnya. Ia mengungkapkan rencana tersebut kepada istrinya dan sang istri sangatlah sedih mendengar ancaman tersebut.


Mendengar berita tersebut, Jambean sangat sedih namun ia merelakan dirinya dibunuh oleh sang ayah. Ia berpesan ketika ia telah meninggal, ia ingin agar mayatnya dibuang ke sebuah bendungan dan jangan dikubur di dalam tanah. Setelah meninggal, sang ibu memenuhi permintaan tersebut dengan membawa mayatnya ke bendungan dan menceburkannya. Di dalam bendungan, tubuh dan kepalanya berubah menjadi udang dan siput atau disebut sebagai keong dalam bahasa jawa.


Beberapa tahun kemudian, dua orang janda sedang mencari kayu bakar. Mereka adalah kakak beradik dengan nama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembagil. Ketika sedang mencari kayu di hutan, mereka sangat terkejut karena menemukan keong dan siput yang berwarna emas serta sangat indah. Keduanya kemudian membawa keong dan siput tersebut untuk dipelihara di rumah.


Setelah mereka membawa siput tersebut dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan, selalu ada keajaiban setiap hari. Dapur mereka selalu dipenuhi makanan lezat ketika mereka pulang dari bekerja. Mereka sangat heran, dan mereka ingin mengetahui siapa orang yang selalu membuat makanan lezat tersebut. Mereka berpura-pura pergi bekerja dan bersembunyi di belakang rumah. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang gadis cantik dari dalam keong tersebut dan ia mulai memasak makanan-makanan lezat.


Kedua janda tersebut kemudian secara diam-diam memegang gadis tersebut dan tidak membiarkannya lagi untuk masuk ke dalam keong. Gadis itu ternyata adalah Jambean yang telah dibunuh oleh ayahnya. Kedua janda tersebut kemudian mengizinkan Jambean untuk tinggal bersama mereka. Karena kepandaiannya dalam menenun, ia sangat terkenal dan seorang pangeran tampan tertarik kepadanya.Pada akhirnya, ia menikah dengan pangeran dan hidup bahagia.


Mouse Deer and Crocodile
One day, Mouse Deer went down to the river to take a drink. But he knew that the crocodile might be waiting underwater to eat him, so he said out loud. “I wonder if the water’s warm. I’ll put in my leg and find out.” Of course Mouse Deer didn’t put in his leg. He picked up a stick instead and put one end into the water. Chomp…! Crocodile grabbed the stick and pulled it underwater. Mouse Deer laughed. “Ha… ha…ha… Stupid crocodile! Cant you tell the difference between a stick and a leg?” Then Mouse Deer ran off to drink somewhere else.
In the next day, Mouse Deer wanted to cross the river. He wanted to eat the fruits on the other side of the river. He saw a floating log in the river. He knew that Crocodile looked like a log when he floated. Mouse Deer didn’t want to be eaten by Crocodile when he crosses the river. He had an idea. He called out loud, “Crocodile!” Crocodile rose from the water, “Hello, Mouse Deer. Have you come to be my lunch?” Mouse Deer smiled. “Sorry, not today, Crocodile. I have orders from the King. He wants to invite all the crocodiles in this river to a party. He wants me to count all the crocodiles so he could prepare enough meal for you.”
“Really…? Tell us what to do,” said Crocodile. “You must line up from this side of the river to the other side,” said Mouse Deer. Crocodile then got all his friends and family. They lined up across the river. Mouse Deer then jumped onto Crocodile’s back. “One,” he counted. He jumped onto the next crocodile, “Two.” And the next crocodile, “Three.” Mouse Deer kept jumping until he arrived on the other side of the river. “How many are there?” asked Crocodile. “Just enough,” said Mouse Deer. He laughed as he ran to the forest.***
 TerjemahanCerita Kancil dan Buaya dalam Bahasa InggrisSuatu hari, Kancil pergi ke sungai untuk minum. Tapi ia tahu bahwa buaya mungkin menunggu didalam air untuk memakannya, jadi dia berteriak keras-keras. “Aku ingin tahu apakah air hangat. Aku akan memasukkan kaki saya ke dalam air dan mencari tahu. “Tentu saja Kancil memasukkan kakinya. Dia mengambil tongkat dan memasukkan satu ujung ke dalam air. Chomp …! Buaya menyambar tongkat dan menariknya ke bawah air. Kancil tertawa. “Ha … ha … ha … buaya bodoh! Tidak bisakah membedakan antara tongkat dan kaki? “Lalu Kancil lari untuk minum di tempat lain.
Pada hari berikutnya, Kancil ingin menyeberang sungai. Dia ingin makan buah-buahan di sisi lain sungai. Dia melihat batang kayu mengambang di sungai. Dia tahu bahwa Buaya tampak seperti kayu mengambang ketika ia mengambang. Kancil tidak mau dimakan oleh buaya ketika ia melintasi sungai. Dia punya ide. Ia berseru keras, “Buaya!” Buaya terangkat dari air, “Halo, Kancil. Apakah kamu datang untuk menjadi makan siang saya? “Kancil tersenyum. “Maaf, tidak hari ini, Buaya. Saya mendapat perintah dari Raja. Dia ingin mengajak seluruh buaya di sungai ini ke pesta. Dia ingin aku menghitung semua buaya sehingga ia bisa mempersiapkan cukup makanan untuk kamu. ”
“Sunggu…? Beritahu kami apa yang harus dilakukan, “kata Buaya. “kamu harus berbaris dari sisi sungai ke sisi lain,” kata Kancil. Buaya kemudian memanggil semua teman-temannya dan keluarganya. Mereka berbaris di seberang sungai. Kancil lalu melompat ke punggung buaya.“Satu,” ia menghitung. Dia melompat ke buaya berikutnya, “Dua.” Dan buaya berikutnya, “Tiga.” Kancil terus melompat sampai ia tiba di sisi lain sungai. “Berapa banyak?” Tanya Buaya. “Cukup,” kata Kancil. Dia tertawa sambil berlari ke hutan.


Terjemahan :


Pinokio


Dia di hutan pinus Italia yang besar, kesepian. Dia selalu memimpikan memiliki seorang anak laki-laki.


Setiap hari, ia pergi memotong kayu untuk orang-orang kota. Suatu hari, sebuah ide terlintas dalam pikirannya, sebuah ide membuat sebuah boneka, yang akan ia beri nama Pinokio. Dia membuat boneka itu dan pada malam hari, boneka tersebut menjadi hidup!

Satu tahun kebahagiaan dan ketakutan berlalu, pada hari Minggu pagi, Gepetto berkata pada Pinokio :

"hari ulang tahun saya segera tiba, putra kecilku! Saya harap kamu tidak lupa!"

"Euh, tentu, saya tidak lupa!"


Pinokio merasa canggung. Dia tidak memikirkan hal itu. Ulang tahun Gepetto hanya tiga hari lagi, dan dia bahkan belum punya kado.


Setelah malam yang panjang dan berfikir, Pinokio akhirnya memutuskan untuk membuatkan kue coklat buatannya sendiri untuk Gepetto sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ketika matahari terbit, Pinokio sudah siap untuk pergi ke luar untuk mendapatkan bahan-bahannya. Masalah utama ia bahkan tidak tau bahan-bahan dan resepnya.


Jadi sepulang sekolah, ia memutuskan bertanya ke seseorang bahan-bahan untuk membuat kue. Selama perjalanannya, Pinokio, si boneka kayu, bertemu penyihir kota.


"Hei, anak kecil, kamu membutuhkan bantuan untuk kue cokelatmu?"


"Hum ... Anda dapat membantu saya?", Tanya Pinokio.


"Tentu, aku bisa. Ikuti aku!"


Setelah berjalan beberapa menit, Pinokio melihat rumah permen yang sangat besar. Mereka masuk bersama-sama dan Pinokio tertangkap oleh kandang besar.


"Mouahahaha! Saya akhirnya berhasil menangkap mu! Kamu akan menjadi milikku, kau akan bekerja untuk ku!", Kata penyihir jahat.

Pinokio sangat takut. Ketika penjaga datang dan membawanya keluar dari kandang, dia segera lari dengan sangat cepat dan dia berhasil melarikan diri.


Pada saat yang sama, penyihir jahat, memanggil semua pasukannya, berlari mengejarnya dan dia mengeluarkan tongkat sihirnya. Iblis jahat mengubah boneka kayu kecil itu menjadi kue cokelat!


Ketika ia kembali ke rumah, dia menceritakan semuanya kepada ayahnya dan mereka pergi mencari peri dewa.

Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya menemukan peri dewa dan mereka mendapatkan ramuan ajaib untuk Pinokio.



Pinocchio




He great Italian pine forest, was lonely. He always dreamed about having a son.


Each day, he went cutting woods for the town’s people. One day, an idea illuminated his mind, the idea of crafting a puppet, which he will call it Pinocchio. He crafted that puppet and during the night, the puppet becomes alive!

One year of happiness and thriller passed, on a Sunday morning, Gepetto told Pinocchio:

"It’s my birthday soon, my little son! I hope you didn’t forget it!"

"Euh, sure, I didn’t!"


Pinocchio felt awkward. He didn’t thought about that. Gepetto’s birthday was coming in only three days, and he hadn’t even a present.


After a long night of reflecting, Pinocchio finally decided to offer a homemade chocolate cake to him as a present.

When the sun rose, Pinocchio was already ready to go outside to find the ingredients. The main problem was he didn’t even known the ingredients and the recipe.


So after school, he decided to go ask someone for the ingredients to bake a cake. During his walk, Pinocchio, the wooden puppet, met the town’s sorcerer.


"Hey, little boy, do you need some help for your chocolate cake?"

"Hum… You can help me?", asked Pinocchio.

"Sure, I can. Follow me!"


After walking few minutes so, Pinocchio saw a big, big, big candy house. They entered together and Pinocchio got caught by a big cage.


"Mouahahaha!!! I finally caught you! You’ll be mine, you’re going to work for me!", said the evil sorcerer.

Pinocchio was so scared. When the guards came and took him out of the cage, he immediately ran away very fast and he succeeded to escape.


At the same time, the evil sorcerer, calling all his troops with him, ran after him and he took out his magic wand. The evil devil changed the little wooden puppet into a chocolate cake!


When he came back home, he told the entire story to his father and they went to find the god fairy.

After a long trip, they finally find the god fairy and they got the magical potion for Pinocchio.




Snow White


Once upon a time there lived a little, named Snow White. She lived with her aunt and uncle because her parents were died.

One day she heard her aunt and uncle talking about leaving Snow White in the castle because they wanted to go to America and they didn't have enough money to take Snow White with them.

Snow White didn't want her uncle and aunt to do this. So she decided to run away. The next morning she run away from home when her aunt and uncle were having breakfast, she run away into the wood.

In the wood she felt very tired and hungry. Then she saw this cottage. She knocked but no one answered so she went inside and felt asleep

Meanwhile seven dwarfs were coming home from work. They went inside. There, they found Snow White woke up. She saw the dwarfs. The dwarfs said; “What is your name?”. Snow White said; “My name is Snow White”. One of the dwarfs said; “If you wish, you may live here with us”. Snow White told the whole story about her. Then Snow white and the seven dwarfs lived happily ever after.


Terjemahan :


Putri Salju


Dahulu kala hiduplah sedikit , bernama Putri Salju . Dia tinggal bersama bibi dan pamannya karena orang tuanya meninggal.

Suatu hari ia mendengar bibi dan pamannya berbicara tentang meninggalkan Putri Salju di benteng karena mereka ingin pergi ke Amerika dan mereka tidak punya cukup uang untuk membawa Putri Salju dengan mereka .

Salju tidak ingin paman dan bibinya untuk melakukan hal ini . Jadi, dia memutuskan untuk melarikan diri . Keesokan harinya dia lari dari rumah ketika bibi dan pamannya sedang sarapan , ia melarikan diri ke dalam hutan .

Dalam kayu ia merasa sangat lelah dan lapar . Lalu ia melihat pondok ini . Dia mengetuk tapi tidak ada yang menjawab jadi dia masuk ke dalam dan merasa tertidur

Sementara tujuh kurcaci datang pulang dari kerja . Mereka masuk ke dalam. Di sana, mereka menemukan Putri Salju terbangun . Dia melihat kerdil . Para kurcaci mengatakan , " Siapa namamu ? " . Putri Salju mengatakan , " Nama saya Snow White" . Salah satu kurcaci berkata , " Jika Anda ingin, Anda dapat tinggal di sini bersama kami " . Putri Salju menceritakan seluruh kisah tentang dia . Kemudian Putri Salju dan tujuh kurcaci hidup bahagia selamanya .



A bear and a lion


One upon a time a lion and a bear caught and killed a goat. They had a quarrel over it.

“It is mine,” said the bear. “I caught it with my strong paws.”

“It is not yours. It is mine,” said the lion. “I killed it with my strong jaws.”

Then they began to fight over it. They ran up and down the hill, under and over the fallen trees, in and out of the forest. They bit and scratched with their strength, but no one could overcome the other.

At last they both were tired out and could fight no longer. They lay upon the ground, panting and looking at each other.

A fox who was passing by at the time saw them with a dead goat near by. She ran up to them, took the goat home and ate it up.




Terjemahan :


Beruang dan singa



Suatu ketika seekor singa dan seekor beruang menangkap dan mebunuh seekor kambing. Mereka pun berdebat.

“Ini milikku,” kata beruang “Saya menagkapnya dengan kekuatan cakarku.”

“itu bukan milikmu. Itu milikku,” kata singa. “Saya membunuhnya dengan kekuatan rahangku.”

Mereka pun mulai bertengkar. Mereka saling kejar naik turun bukit melewati bawah dan atas batang pohon tumbang, keluar dan masuk hutan. Mereka saling menggigit dan mencakar dengan kekuatan mereka yang mereka miliki, tapi tidak ada yang mampu mengalahkan satu sama lain.

Dan pada akhirnya mereka berdu letih dan tidak bias berkelahi lagi. Mereka berbaring dengan nafas terengah-engah dan saling melihat.

Pada saat yang bersamaan tiba-tiba seekor rubah lewat dan melihat mereka bersama seekor kambing mati di dekatnya. Dia pun mendekat, dan membawa pergi kambing tersebut.







The fools of two men


Gotham (Go’tem) was a little town in England.

Once there was a man from Gotham going to market to buy sheep. At gotham bridge, he met a man who had just come back from the market.

“Where are you going?” asked the man who had come back to Gotham.

“I am going to market to buy sheep,” answered the other.

“Which way are you going to bring your sheep home?” asked the first man again.

“Over this bridge,” answered the second man.

“You shall not go over this bridge,” said the first man. “You shall go that way,”

“I will go over this bridge,” said the second man.

“You shall not,” said the first man again.

“But I will,” replied the other.

Soon the two men began to fight. They fought and fought until they both got quite hurt.

How foolish they were! They fought over the sheep which were not here.



Terjemahan :

Kebodohan dua orang pria


Gotham adalah sebuah kota kecil di Inggris.

Suatu hari seorang pria dari Gotham pergi ke pasar untu membeli domba. Pada Jembatan Gotham, di bertemu dengan seorang pria yang baru pulang dari pasar.

“mau kemana?” Tanya pria yang baru pulang dari pasar.

“Saya akan ke pasar untuk membeli domba,” jawabnya

“Jalan yang mana akan kamu lalui untuk membawa dombamu pulang ke rumah?” Tanya pria pertama lagi

“Lewat jembatan ini,” jawab pria kedua

“Kamu tidak boleh melewati jembatan ini,” Kata pria pertama. “kamu harus lewat jalan sana,”

“Saya akan lewat jembatan ini,” kata pria kedua

“Tidak boleh,” kata pria pertama

“tapi saya akan tetap lewat sini,” jawab pria kedua.

Akhirnya keduanya pun bertengkar. Mereka berkelahi dan berkelahi sampai mereka kesakitan.

Betapa bodohnya mereka! Mereka mempermasalahkan jalan yang kakan dilalui domba yang belum ada.



The Legend of Malin Kundang


A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a woman and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang's father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother

.

Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town. One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant's ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates.


The merchant was so happy and thanked to him. In return the merchant asked Malin Kundang to sail with him. To get a better life, Malin Kundang agreed. He left his mother alone. Many years later, Malin Kundang became wealthy. He had a huge ship and was helped by many ship crews loading trading goods. Perfectly he had a beautiful wife too. When he was sailing his trading journey, his ship landed on a beach near a small village. The villagers recognized him. The news ran fast in the town; “Malin Kundang has become rich and now he is here”. An old woman ran to the beach to meet the new rich merchant. She was Malin Kundang’s mother.


She wanted to hug him, released her sadness of being lonely after so long time. Unfortunately, when the mother came, Malin Kundang who was in front of his well dressed wife and his ship crews denied meeting that old lonely woman. For three times her mother begged Malin Kundang and for three times he yelled at her. At last Malin Kundang said to her "Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly woman!" After that he ordered his crews to set sail. He would leave the old mother again but in that time she was full of both sadness and angriness. Finally, enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn't apologize. Malin Kundang just laughed and really set sail

.

 In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologize. He was thrown by the wave out of his ship. He fell on a small island. It was really too late for him to avoid his curse. Suddenly,

he turned into a stone.





Terjemahan :


The Legend of Malin Kundang


Dahulu kala, di sebuah desa kecil dekat pantai di Sumatera Barat, seorang wanita dan anaknya tinggal. Mereka adalah Malin Kundang dan ibunya. Ibunya adalah seorang single parent karena ayah Malin Kundang telah meninggal ketika ia masih bayi. Malin Kundang harus hidup keras dengan ibunya
.
Malin Kundang adalah, rajin, dan kuat laki-laki yang sehat. Dia biasanya pergi ke laut untuk menangkap ikan. Setelah mendapatkan ikan dia akan membawanya kepada ibunya, atau menjual ikan yang ditangkap di kota. Suatu hari, ketika sedang berlayar Malin Kundang, ia melihat sebuah kapal pedagang yang sedang diserbu oleh sekelompok kecil pembajak.

Dia membantu pedagang. Dengan berani dan kekuasaannya, Malin Kundang mengalahkan bajak laut. Pedagang itu sangat senang dan berterima kasih kepadanya. Sebagai imbalannya pedagang meminta Malin Kundang untuk berlayar bersamanya. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Malin Kundang setuju. Dia meninggalkan ibunya sendirian. Bertahun-tahun kemudian, Malin Kundang menjadi kaya. Dia memiliki kapal besar dan dibantu oleh banyak awak kapal memuat barang dagangan. Sempurna dia punya istri yang cantik juga.

Ketika ia sedang berlayar perjalanan trading, kapal mendarat di pantai dekat sebuah desa kecil.Penduduk desa mengenalinya. Berita itu berlari cepat di kota, "Malin Kundang telah menjadi kaya dan sekarang dia ada di sini". Seorang wanita tua berlari ke pantai untuk memenuhi saudagar kaya baru. Dia adalah ibu Malin Kundang ini. Dia ingin memeluknya, dirilis kesedihannya menjadi kesepian setelah sekian lama. Sayangnya, ketika ibu datang, Malin Kundang yang berada di depan berpakaian istri dan awak kapalnya membantah pertemuan yang tua wanita kesepian. Selama tiga kali ibunya meminta Malin Kundang dan tiga kali ia berteriak padanya.

Akhirnya Malin Kundang berkata kepadanya "Cukup, wanita tua! Saya tidak pernah memiliki ibu seperti Anda, wanita kotor dan jelek!" Setelah itu ia memerintahkan kru untuk berlayar. Dia akan meninggalkan ibu tua lagi tapi pada saat itu dia penuh baik kesedihan dan angriness. Akhirnya, marah, dia mengutuk Malin Kundang bahwa ia akan berubah menjadi batu jika dia tidak meminta maaf. Malin Kundang hanya tertawa dan benar-benar berlayar
.
 Di laut yang tenang, tiba-tiba badai datang. Kapal yang besar rusak dan itu terlalu terlambat bagi Malin Kundang untuk meminta maaf. Ia dilemparkan oleh gelombang dari kapalnya. Dia jatuh di sebuah pulau kecil. Itu benar-benar terlambat baginya untuk menghindari kutukan.Tiba-tiba,
ia berubah menjadi batu.



Lutung Kasarung

Cerita rakyat from West Java


Prabu Tapa Agung had led a kingdom in West Java for a long time. He was getting old and therefore wanted to choose a successor. But unfortunately, he had no son. He thought of choosing one of his daughters, Purbararang and Purbasari. But it wasn’t an easy choice. They were both very pretty and smart. The only difference was their temperament. Purbararang was rude and dishonest, while Purbasari was kind and caring. With those considerations, Prabu Tapa Agung finally chose Purbasari to be his successor.

Purbararang didn’t agree with her father’s decision. “It’s supposed to be me, Father. I’m the eldest daughter!” Purbararang said. Prabu Tapa Agung smiled. “Purbararang, to be a queen takes more than age. There are many other qualities that one must possess,” explained Prabu Tapa Agung wisely. “What does Purbasari have that I don’t?” Purbararang pouted. “You’ll find out when Purbasari has replaced me,” Prabu Tapa Agung answered.

After the discussion, Purbararang went back to her room. “Is there something wrong?” asked Indrajaya. Indrajaya is Purbararang’s future husband. “I’m upset! Father chose Purbasari as his successor and not me! I have to do something!” Purbararang said. Driven mad by her anger, she came to a witch and asked her to send rash all over Purbasari’s body. Before going to bed, Purbasari started to feel itch all over her body. She tried applying powder to her body, but it’s no use. Instead, the itching grew even worse. She didn’t want to scratch it, but she just couldn’t help it. In the next morning, there were scratch mark all over Purbasari’s body. “What happened to you?” asked Purbararang, pretending to be concerned. “I don’t know, sis. Last night, my body suddenly felt very itchy. I scratched and scratched, and this is what happened,” Purbasari answered. Purbararang shook her head. “You must have done something really awful. You’ve been punished by the gods!”

That day, the whole kingdom was scandalized. “What have you done, Purbasari?” demanded Prabu Tapa Agung. Purbasari shook her head. “I didn’t do anything that would upset the gods, Father,” she answered. “Then how can you explain what happened to your body?” Prabu Tapa Agung asked again. “If you don’t confess, I’ll banish you to the woods.” Purbasari took a deep breath. “Like I said before, I didn’t do anything wrong. And I’d rather be thrown into the woods than to confess to a deed I didn’t commit.”

After a short discussion with his advisor, Prabu Tapa Agung ordered Purbasari to be moved to the woods. Purbasari was very sad, but she couldn’t do anything to defy her father’s order. She was accompanied to the woods by a messenger. He built a simple hut for Purbasari. After the messenger left, suddenly a black monkey came to Purbasari’s hut. He carried a bunch of bananas. From behind him, some animals looked on. “Are the bananas for me?’ Purbasari asked. The black monkey nodded, as if he understood what Purbasari said. Purbasari took the bananas with pleasure. She also said thanks. The other animals that were looking on also seemed to smile. “Are you willing to be my friend?” Purbasari asked them. All the animals nodded happily. Although she was living by herself in the woods, Purbasari never lacked of supplies. Everyday, there were always animals bringing her fruits and fish to eat.

A long time had passed since Purbasari was banished to the woods, but her body still itched. At some places, her skin was even ulcerating. What am I supposed to do?” Purbasari sighed. The monkey who was sitting next to her stayed still, there were tears in his eyes. He hoped Purbasari would remain patient and strong.

One night, on a full moon, the monkey took Purbasari to a valley. There is a pond with hot spring water. The monkey suddenly spoke, “The water of this pond will heal your skin,” he said. Purbasari was surprised, ”You can talk? Who are you?” she asked. “You’ll find out, in time,” the monkey said. Purbasari didn’t want to force the monkey. She then walked to the pond. She bathed there. After a few hours, Purbasari walked out of the pond. She was shocked to see her face reflected on the clear pond water. Her face was beautiful again, with smooth and clean skin. Purbasari observed her entire body. There were no traces of any skin ailments. “I’m cured! I’m cured!” Purbasari shouted in joy. She quickly offered thanks to the gods and also to the monkey.

The news of Purbasari’s condition quickly spread to the kingdom, irritating Purbararang. She then accompanied by Indrajaya go to the woods to see Purbasari. Purbasari asked if she would be allowed to go home. Purbararang said she would let Purbasari return to the palace if Purbasari’s hair were longer than hers. Purbararang then let her hair down. It was so long, it almost touched the ground. But it turned out that Purbasari’s hair was twice longer than Purbararang’s hair.

“Fine, so your hair is longer than mine.” Purbararang admitted. “But there is one more condition you must fulfill, do you have a future husband who is handsomer than mine?” said Purbararang as she walked toward Indrajaya. Purbasari felt miserable. She didn’t have a future husband yet. So, without much thought, she pulled the black monkey beside her.

Purbararang and Indrajaya burst out, but their laughter didn’t last long. The monkey meditates and suddenly transformed into a very handsome young man, a lot more handsome than Indrajaya. “I’m a prince from a kingdom far away. I was cursed to be a monkey because of a mistake I committed. I could regain my true form only if there’s a girl who would be willing to be my wife,” said the young man.

Finally, Purbararang gave up. She accepted Purbasari as the queen, and also confessed everything she had done. “Please forgive me. Please don’t punish me,” Purbararang said, asking for forgiveness. Instead of being angry, Purbasari smiled. “I forgive you, sis,” she said. Soon after, Purbasari become queen. Beside her was the handsome prince, the former monkey known as Lutung Kasarung.


Terjemahan :


Lutung Kasarung

Prabu Tapa Agung telah memimpin kerajaan di Jawa Barat untuk waktu yang lama . Dia sudah tua dan karena itu ingin memilih penggantinya . Namun sayangnya , ia tidak punya anak . Dia berpikir untuk memilih salah satu putrinya , Purbararang dan Purbasari . Tapi itu bukan pilihan yang mudah . Mereka berdua sangat cantik dan cerdas . Satu-satunya perbedaan adalah temperamen mereka . Purbararang kasar dan jujur ​​, sementara Purbasari adalah baik dan peduli . Dengan pertimbangan tersebut , Prabu Tapa Agung akhirnya memilih Purbasari menjadi penggantinya .Purbararang tidak setuju dengan keputusan ayahnya . " Ini seharusnya menjadi aku , Ayah . Aku adalah putri sulung ! " Kata Purbararang . Prabu Tapa Agung tersenyum . " Purbararang , untuk menjadi seorang ratu memakan waktu lebih dari usia . Ada banyak kualitas lain bahwa seseorang harus memiliki, "jelas Prabu Tapa Agung bijaksana . " Apa Purbasari memiliki aku tidak? " Purbararang cemberut . " Anda akan menemukan ketika Purbasari telah menggantikan saya, " jawab Prabu Tapa Agung .
Setelah diskusi , Purbararang kembali ke kamarnya . " Apakah ada sesuatu yang salah ? " Tanya Indrajaya . Indrajaya adalah suami Purbararang masa depan . " Aku marah ! Bapa memilih Purbasari sebagai penggantinya dan bukan aku! Aku harus melakukan sesuatu ! " Kata Purbararang . Gila karena kemarahannya , dia datang ke penyihir dan memintanya untuk mengirim ruam seluruh tubuh Purbasari itu . Sebelum tidur , Purbasari mulai merasa gatal di seluruh tubuhnya . Dia mencoba menerapkan bubuk tubuhnya , tapi itu tidak ada gunanya . Sebaliknya , gatal tumbuh bahkan lebih buruk . Dia tidak ingin menggaruknya , tapi dia tidak bisa menahannya . Pada keesokan paginya , ada goresan tanda seluruh tubuh Purbasari itu . " Apa yang terjadi padamu ? " Tanya Purbararang , berpura-pura menjadi khawatir . " Saya tidak tahu , sis . Tadi malam , tubuh saya tiba-tiba merasa sangat gatal . Aku menggaruk dan menggaruk , dan ini adalah apa yang terjadi , "jawab Purbasari . Purbararang menggeleng . " Anda harus melakukan sesuatu yang benar-benar mengerikan. Anda telah dihukum oleh para dewa ! " Hari itu , seluruh kerajaan itu tersinggung . " Apa yang telah Anda lakukan, Purbasari ? " Menuntut Prabu Tapa Agung . Purbasari menggeleng . " Aku tidak melakukan apa pun yang akan mengganggu para dewa , Bapa , " jawabnya . " Lalu bagaimana Anda bisa menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh Anda? " Tanya Prabu Tapa Agung lagi . " Jika Anda tidak mengaku , aku akan mengusirmu ke hutan . " Purbasari menarik napas panjang . " Seperti saya katakan sebelumnya , saya tidak melakukan sesuatu yang salah . Dan aku lebih suka dilemparkan ke dalam hutan daripada mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan . "
Setelah diskusi singkat dengan penasihat , Prabu Tapa Agung memerintahkan Purbasari untuk dipindahkan ke hutan . Purbasari sangat sedih , tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menentang perintah ayahnya . Dia ditemani ke hutan oleh seorang utusan . Ia membangun sebuah pondok sederhana untuk Purbasari . Setelah utusan kiri , tiba-tiba seekor monyet hitam datang ke gubuk Purbasari itu . Dia membawa setandan pisang . Dari belakangnya , beberapa hewan memandang . " Apakah pisang untuk saya? " Tanya Purbasari . Monyet hitam mengangguk , seolah-olah ia mengerti apa yang dikatakan Purbasari . Purbasari mengambil pisang dengan senang hati. Dia juga mengucapkan terima kasih . Hewan-hewan lain yang mencari di juga tampak tersenyum . " Apakah Anda bersedia menjadi teman saya ? " Purbasari bertanya kepada mereka . Semua binatang mengangguk senang . Meskipun ia hidup sendirian di hutan , Purbasari tidak pernah kekurangan pasokan . Setiap hari , selalu ada hewan yang membawa buah-buahan dan ikan untuk makan .
Sebuah waktu yang lama berlalu sejak Purbasari dibuang ke hutan, tapi tubuhnya masih gatal . Di beberapa tempat , kulitnya bahkan ulserasi . Apa yang harus saya lakukan? " Purbasari mendesah . Monyet yang duduk di sampingnya tinggal diam, ada air mata di matanya . Dia berharap Purbasari akan tetap sabar dan kuat .
Suatu malam , pada bulan purnama , monyet mengambil Purbasari ke sebuah lembah . Ada sebuah kolam dengan mata air panas. Monyet tiba-tiba berbicara , " Air kolam ini akan menyembuhkan kulit Anda , " katanya . Purbasari terkejut , " Anda dapat berbicara ? Siapa kau ? " Tanyanya . " Kau akan tahu , pada waktunya , " kata monyet . Purbasari tidak mau memaksa monyet . Dia kemudian berjalan ke kolam . Dia mandi di sana. Setelah beberapa jam , Purbasari keluar dari kolam. Dia terkejut melihat wajahnya tercermin pada air kolam jernih . Wajahnya cantik lagi , dengan kulit halus dan bersih . Purbasari mengamati seluruh tubuhnya . Tidak ada jejak penyakit kulit apapun. " Saya sembuh ! Aku sembuh ! " Purbasari berteriak dalam sukacita . Dia cepat menawarkan berkat para dewa dan juga untuk monyet .
Kabar kondisi Purbasari dengan cepat menyebar ke kerajaan , menjengkelkan Purbararang . Dia kemudian disertai oleh Indrajaya pergi ke hutan untuk melihat Purbasari . Purbasari bertanya apakah dia akan diizinkan pulang ke rumah . Purbararang mengatakan dia akan membiarkan Purbasari kembali ke istana jika rambut Purbasari yang lebih panjang daripada miliknya . Purbararang kemudian membiarkan rambutnya turun . Itu begitu lama , hampir menyentuh tanah . Tapi ternyata bahwa rambut Purbasari adalah dua kali lebih panjang dari rambut Purbararang itu . " Baik-baik saja , sehingga rambut Anda lebih panjang dari saya . " Purbararang mengakui . " Tapi ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi, apakah Anda memiliki calon suami yang tampan dariku ? " Kata Purbararang sambil berjalan menuju Indrajaya . Purbasari merasa sengsara . Dia tidak memiliki calon suami belum. Jadi , tanpa banyak berpikir , ia menarik monyet hitam di sampingnya .
Purbararang dan Indrajaya meledak , tapi tawa mereka tidak berlangsung lama . Monyet bermeditasi dan tiba-tiba berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan , jauh lebih tampan dari Indrajaya . " Saya seorang pangeran dari kerajaan yang jauh . Aku dikutuk menjadi kera karena kesalahan yang saya lakukan. Saya bisa mendapatkan kembali bentuk saya benar hanya jika ada seorang gadis yang bersedia untuk menjadi istriku , " kata pemuda itu . Akhirnya , Purbararang menyerah . Dia menerima Purbasari sebagai ratu , dan juga mengakui semua yang telah ia lakukan . " Maafkan saya . Tolong jangan menghukum saya, " kata Purbararang , meminta pengampunan . Alih-alih marah , Purbasari tersenyum . " Aku memaafkanmu , sis , " katanya . Segera setelah itu , Purbasari menjadi ratu . Di sampingnya adalah pangeran tampan , mantan monyet yang dikenal sebagai Lutung Kasarung .



Cindelaras

 Cerita rakyat from East JavaRaden Putra was the king of Jenggala kingdom. He had a beautiful queen and concubine. Unlike the queen, the concubine had bad personalities. She was envious and jealous with the queen, so she planned to make the queen leave the palace. The concubine then asked the royal healer to help her in her plan. One day, the concubine pretended to be ill. Raden Putra called the royal healer to give the concubine treatments. “What is her disease?” Raden Putra asked the royal healer. “I’m very sorry, My Majesty. She is sick because the queen put poison in her meal,” the royal healer lied.
Raden Putra was shock and angry to hear the explanation. He called the queen and asked her if the story was true. Of course the queen denied, but Raden Putra won’t listen. “Please Your Majesty, have mercy. I really didn’t do anything,” cried the queen in her tears. Raden Putra’s anger ended in a decision. The queen should be banished to the woods and terminated. He did not know that the queen was already pregnant. Raden Putra commanded one of his general to do the punishment. The queen was banished to the woods, but the wise general didn’t have the heart to kill her. He built a simple house in the woods for her. On his way back to the palace, he smeared his sword with rabbit blood, so Raden Putra would believe that he had killed the queen.
After the general left, the queen lived by herself in the woods. Several months later, she gave birth to a healthy baby boy. The baby was named Cindelaras. He grew up as a nice, healthy, and handsome boy. One day, while Cindelaras helped her mother to collect some fire woods, an eagle dropped an egg. Cindelaras brought the egg to be brooded by a chicken behind their house. The egg hatched into a chick and then it slowly became a strong rooster. The rooster is no ordinary rooster. The rooster could sing. Every morning, the rooster woke Cindelaras up with its beautiful song, “My master is Cindelaras. His house is in the woods. He’s the son of Raden Putra.” The rooster often sang that song.
Cindelaras always woke up early in the morning and listen happily to his rooster’s song. He didn’t realize the meaning of the song until one day, he started to think. “Who is Raden Putra?” he asked his mother. The queen then told him the whole story. She also told him why they were banned from the kingdom and lived in the woods. Cindelaras was very surprised. He decided to go to the palace to meet the king, his father. Cindelaras asked her mother’s permission to go to the kingdom and to tell the king what really happened. He also brought his rooster that grew bigger and stronger each day.
On his way, Cindelaras stopped at a village. There, he met some people who were involved in cockfighting. They challenge him to see how strong his rooster was. “If your rooster wins, you’ll get a reward,” said the man who challenged him. Cindelaras accepted the challenge. In a few minutes, his rooster defeated the opponent’s rooster. He was challenged again by other man, and one more time, his rooster won. He won again and again.
The news about Cindelaras’ rooster quickly spread to the whole Jenggala kingdom and made Raden Putra curious. So, he invited Cindelaras to the palace. “What is your name, boy?” Raden Putra asked as Cindelaras arrived in the palace. “My name is Cindelaras, Your Majesty,” Cindelaras answered. He felt both thrilled and happy to see Raden Putra.
Raden Putra challenged Cindelaras with one condition. If Raden Putra’s rooster won, Cindelaras’ head would be cut off. But if Cindelaras’ rooster won, Raden Putra would share half of his wealth. Cindelaras accepted the condition. The competition was held in the front yard of the palace. The two roosters fought bravely. But in just a few minutes, Cindelaras’ rooster won the fight! Raden Putra shook his head and stared at Cindelaras from his seat, “That rooster is no ordinary rooster, and the boy is not an ordinaty boy either. Who is he exactly?” he thought. Raden Putra was about to asked when suddenly Cindelaras’ rooster sang the song, “My master is Cindelaras. His house is in the woods. He’s the son of Raden Putra.”
Raden Putra was surprised. “Is it true?” he asked. “Yes, My Majesty. My name is Cindelaras and my mother was the queen,” said Cindelaras. Raden putra called the general who had banished the queen. The general then confessed that he never killed the queen. Later, the royal healer also admitted his mistake. Raden Putra was so shocked. He immediately went to the woods to pick up the queen. Ever since, Cindelaras and his parents lived happily together. As for the concubine, she was sent to the jail as punishment.





Terjemahan :


Cindelaras
Cerita rakyat dari Jawa Timur


Raden Putra adalah raja dari kerajaan Jenggala . Dia memiliki seorang ratu yang cantik dan selir . Tidak seperti ratu , selir memiliki kepribadian buruk . Dia iri dan cemburu dengan ratu , jadi dia berencana untuk membuat ratu meninggalkan istana . Selir kemudian meminta penyembuh kerajaan untuk membantunya dalam rencananya . Suatu hari , selir pura-pura sakit . Raden Putra disebut penyembuh kerajaan untuk memberikan perawatan selir . " Apakah penyakit itu ? " Raden Putra meminta penyembuh kerajaan . " Saya sangat menyesal , Yang Mulia saya . Dia sakit karena ratu menaruh racun dalam makan nya , " penyembuh kerajaan berbohong .
Raden Putra syok dan marah mendengar penjelasan . Dia disebut ratu dan bertanya apakah cerita itu benar . Tentu saja Ratu membantah , tapi Raden Putra tidak akan mendengarkan . " Tolong Yang Mulia , kasihanilah . Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa , "teriak ratu dalam air matanya . Kemarahan Raden Putra berakhir dengan keputusan. Ratu harus dibuang ke hutan dan dihentikan . Dia tidak tahu bahwa ratu sudah hamil . Raden Putra memerintahkan salah satu jenderalnya untuk melakukan hukuman . Ratu dibuang ke hutan, tapi umum bijaksana tidak tega membunuhnya . Dia membangun sebuah rumah sederhana di hutan untuknya . Dalam perjalanan kembali ke istana , ia mengoleskan pedangnya dengan darah kelinci , sehingga Raden Putra akan percaya bahwa ia telah membunuh ratu .
Setelah kiri umum , ratu tinggal sendirian di hutan . Beberapa bulan kemudian , ia melahirkan bayi laki-laki yang sehat . Bayi itu diberi nama Cindelaras . Ia dibesarkan sebagai baik , sehat , dan tampan anak laki-laki . Suatu hari , sementara Cindelaras membantu ibunya untuk mengumpulkan beberapa kebakaran hutan , seekor elang menjatuhkan telur . Cindelaras membawa telur untuk merenung oleh ayam di belakang rumah mereka . Telur menetas menjadi ayam dan kemudian perlahan-lahan menjadi ayam jantan yang kuat . Ayam ada ayam biasa . Ayam bisa menyanyi . Setiap pagi , ayam Cindelaras terbangun dengan lagu yang indah , " Tuanku adalah Cindelaras . Rumahnya adalah di hutan . Dia adalah putra dari Raden Putra . " Ayam sering menyanyikan lagu itu .
Cindelaras selalu bangun pagi-pagi dan mendengarkan dengan senang hati lagu ayam nya . Dia tidak menyadari makna dari lagu hingga suatu hari , ia mulai berpikir . " Siapa Raden Putra ? " Ia bertanya kepada ibunya . Ratu kemudian menceritakan seluruh cerita . Dia juga mengatakan kepadanya mengapa mereka dilarang dari kerajaan dan tinggal di hutan . Cindelaras sangat terkejut . Dia memutuskan untuk pergi ke istana untuk bertemu raja , ayahnya . Cindelaras meminta izin ibunya untuk pergi ke kerajaan dan memberitahu raja apa yang sebenarnya terjadi . Dia juga membawa ayam jantan nya yang tumbuh lebih besar dan kuat setiap hari .
Dalam perjalanannya , Cindelaras berhenti di sebuah desa . Di sana, ia bertemu dengan beberapa orang yang terlibat dalam adu ayam . Mereka menantang dia untuk melihat seberapa kuat nya ayam jantan . " Jika menang ayam Anda , Anda akan mendapatkan hadiah , " kata pria yang menantangnya . Cindelaras menerima tantangan itu . Dalam beberapa menit , ayam jantan nya mengalahkan ayam lawan . Dia ditantang lagi oleh pria lain, dan sekali lagi , ayam nya menang. Dia menang lagi dan lagi .
Berita tentang ayam Cindelaras ' dengan cepat menyebar ke seluruh kerajaan Jenggala dan membuat Raden Putra penasaran . Jadi , ia mengundang Cindelaras ke istana . " Siapa namamu , anak laki-laki ? " Tanya Raden Putra sebagai Cindelaras tiba di istana . " Nama saya Cindelaras , Yang Mulia , " jawab Cindelaras . Dia merasa baik senang dan senang melihat Raden Putra .
Raden Putra menantang Cindelaras dengan satu syarat . Jika ayam Raden Putra memenangkan , kepala Cindelaras ' akan dipotong . Tetapi jika ayam Cindelaras ' menang , Raden Putra akan berbagi setengah dari kekayaannya . Cindelaras menerima kondisi tersebut . Kompetisi ini diadakan di halaman depan istana . Kedua ayam jantan bertempur dengan gagah berani . Tapi hanya dalam beberapa menit , ayam Cindelaras ' memenangkan pertarungan! Raden Putra menggeleng dan menatap Cindelaras dari tempat duduknya , " ayam jantan Itu bukan ayam biasa , dan anak itu bukan anak ordinaty baik . Siapa dia sebenarnya ? " Pikirnya. Raden Putra hendak bertanya ketika tiba-tiba ayam Cindelaras ' menyanyikan lagu , " Tuanku adalah Cindelaras . Rumahnya adalah di hutan . Dia adalah putra dari Raden Putra . "
Raden Putra terkejut . " Apakah itu benar? " Tanyanya . " Ya , saya Yang Mulia . Nama saya Cindelaras dan ibu saya adalah ratu , " kata Cindelaras . Raden putra disebut jenderal yang telah dibuang ratu . Jenderal itu kemudian mengaku bahwa ia tidak pernah membunuh ratu . Kemudian , penyembuh kerajaan juga mengakui kesalahannya . Raden Putra sangat terkejut . Dia segera pergi ke hutan untuk mengambil ratu . Sejak saat itu, Cindelaras dan orang tuanya hidup bahagia bersama-sama . Adapun selir , ia dikirim ke penjara sebagai hukuman .



Timun MasLong time ago in the island of Java, Indonesia, lived a couple of farmer.  They had married for some years but they had no children.  So they prayed to a monster called Buta Ijo to give them children.  Buta Ijo was a ferocious and powerful monster.  He granted their wish on one condition.  When their children had grown up, they had to sacrifice them to Buta Ijo.  He liked eating fresh meat of human being.  The farmers agreed to his condition.  Several months later the wife was pregnant.
She gave birth to a beautiful baby girl.  They named her Timun Emas.  The farmers were happy.  Timun Emas was very healthy and a very smart girl.  She was also very diligent. When she was a teenager Buta Ijo came to their house.  Timun Emas was frightened so she ran away to hide.  The farmers then told Buta Ijo that Timun Emas was still a child.  They asked him to postpone.  Buta Ijo agreed.  He promised to come again.  The following year Buta Ijo came again.  But again and again their parents said that Timun Emas was still a child.
When the third time Buta Ijo came their parents had prepared something for him.  They gave Timun Emas several bamboo needles, seeds of cucumber, dressing and salt.
‘Timun, take these things’
‘What are these things?’
‘These are your weapons.  Buta Ijo will chase you.  He will eat you alive.  So run as fast as you can.  And if he will catch you spread this to the ground.  Now go!’
Timun Emas was scared so she ran as quickly as she could.  When Buta Ijo arrived she was far from home.  He was very angry when he realized that his prey had left.  So he ran to chase her.  He had a sharp nose so he knew what direction his prey ran.
Timun Emas was just a girl while Buta Ijo was a monster so he could easily catch her up.  When he was just several steps behind Timun Emas quickly spread the seeds of cucumber.  In seconds they turned into many vines of cucumber.  The exhausted Buta Ijo was very thirsty so he grabbed and ate them.  When Buta Ijo was busy eating cucumber Timun Emas could run away.
But soon Buta Ijo realized and started running again.  When he was just several steps behind Timun Emas threw her bamboo needles.   Soon they turned into dense bamboo trees. Buta Ijo found it hard to pass.  It took him some time to break the dense bamboo forest.  Meanwhile Timun Emas could run farther.
Buta Ijo chased her again.  When he almost catch her again and again Timun Emas threw her dressing.  This time it turned into a lake.  Buta Ijo was busy to save himself so Timun Emas ran way.  But Buta Ijo could overcome it and continued chasing her.
Finally when Timun Emas was almost caught she threw her salt.  Soon the land where Buta Ijo stood turned into ocean.  Buta Ijo was drowned and died instantly.
Timun Emas was thankful to god and came back to her home.


Terjemahan :


Timun Mas


Lama waktu yang lalu di pulau Jawa , Indonesia , tinggal beberapa petani . Mereka telah menikah selama beberapa tahun , tetapi mereka tidak punya anak . Jadi mereka berdoa kepada rakasa yang disebut Buta Ijo untuk memberi mereka anak-anak . Buta Ijo adalah rakasa ganas dan kuat . Dia mengabulkan permintaan mereka dengan satu syarat . Ketika anak-anak mereka telah dewasa, mereka harus mengorbankan mereka untuk Buta Ijo . Dia suka makan daging segar manusia . Para petani setuju untuk kondisinya . Beberapa bulan kemudian istri sedang hamil .
Dia melahirkan seorang bayi perempuan cantik . Mereka menamai dia Timun Emas . Para petani senang . Timun Emas sangat sehat dan seorang gadis yang sangat cerdas . Dia juga sangat rajin . Ketika ia masih remaja Buta Ijo datang ke rumah mereka . Timun Emas ketakutan sehingga dia melarikan diri untuk bersembunyi . Para petani kemudian mengatakan Buta Ijo bahwa Timun Emas masih anak-anak. Mereka memintanya untuk menunda . Buta Ijo setuju . Dia berjanji untuk datang lagi . Tahun berikutnya Buta Ijo datang lagi. Tapi lagi dan lagi orang tua mereka mengatakan bahwa Timun Emas masih anak-anak.
Ketika ketiga kalinya Buta Ijo datang orang tua mereka telah mempersiapkan sesuatu untuknya . Mereka memberi Timun Emas beberapa jarum bambu , biji mentimun , saus dan garam .
' Timun , mengambil hal-hal ini '
' Apa ini ? '
' Ini adalah senjata Anda . Buta Ijo akan mengejar Anda . Dia akan makan Anda hidup . Jadi berlari secepat Anda bisa. Dan jika ia akan menangkap Anda menyebarkan ini ke tanah . Sekarang pergi! '
Timun Emas takut sehingga ia berlari secepat yang dia bisa . Ketika Buta Ijo tiba ia jauh dari rumah . Dia sangat marah ketika ia menyadari bahwa mangsanya telah meninggalkan . Jadi dia berlari mengejarnya . Dia memiliki hidung yang tajam sehingga ia tahu apa arah berlari mangsanya .
Timun Emas hanya seorang gadis sementara Buta Ijo adalah rakasa sehingga ia bisa dengan mudah menangkapnya up . Ketika ia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas cepat menyebar benih-benih mentimun . Dalam hitungan detik mereka berubah menjadi banyak tanaman merambat mentimun . The kelelahan Buta Ijo sangat haus sehingga ia meraih dan makan mereka . Ketika Buta Ijo sedang sibuk makan mentimun Timun Emas bisa melarikan diri .
Tapi segera Buta Ijo menyadari dan mulai berlari lagi . Ketika ia hanya beberapa langkah di belakang Timun Emas melemparkan jarum bambu nya . Tak lama kemudian mereka berubah menjadi pohon bambu lebat . Buta Ijo merasa sulit untuk lulus . Ini membawanya beberapa waktu untuk memecahkan hutan bambu lebat . Sementara itu Timun Emas bisa berlari lebih jauh .
Buta Ijo mengejarnya lagi . Ketika ia hampir menangkapnya lagi dan lagi Timun Emas melemparkan riasnya . Kali ini berubah menjadi danau . Buta Ijo sedang sibuk menyelamatkan diri sehingga Timun Emas berlari jalan . Tapi Buta Ijo bisa mengatasinya dan terus mengejarnya .
Akhirnya ketika Timun Emas hampir tertangkap ia melemparkan garam itu . Segera tanah tempat Buta Ijo berdiri berubah menjadi laut . Buta Ijo itu tenggelam dan tewas seketika .
Timun Emas bersyukur kepada Tuhan dan kembali ke rumahnya .



 Roro JonggrangLong time ago, there was a kingdom named Prambanan. All the people of Prambanan lived peacefully. But then, Prambanan kingdom was attacked and occupied by the Pengging kingdom. Prambanan then was ruled by Bandung Bondowoso of Pengging kingdom. He was a mean king. He also had great supernatural power. His soldiers were not only humans, but also genies.
The king of Prambanan had a beautiful daughter named Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso fell in love with her and wanted to marry her. “You’re very beautiful. Would you be my queen?” asked Bandung Bondowoso. Loro Jonggrang was shocked. She didn’t like Bandung Bondowoso because he was a mean person. She wanted to refuse, but she afraid that Bandung Bondowoso would be angry and endangered the people of Prambanan. Then, she came up with a plan. “If you want to marry me, you have to build a thousand temples for me in just one night,” said Loro Jonggrang. “What? That’s impossible!” said Bandung Bondowoso. But he did not give up. He consulted with his advisor. “Your Majesty can asked the genies to help built the temples,” said the advisor.
So, Bandung Bondowoso summoned his entire genies soldier and commanded them to help him built a thousand temples. The genies worked in unbelievable speed. Meanwhile, Loro Jonggrang heard from her servant that the building of a thousand temples was almost finished. She was so worried. But again, she came up with a great idea. She asked all of her servants to help her. “Please prepare a lot of straw and mortar. Please hurry up!” said Loro Jonggrang. “Burn the straw and make some noise pounding the mortar, quickly.” All those servants did what Loro Jonggrang ordered them; burning straw and pounding the mortar, making the genies think that the sun is going to rise.
“It’s already dawn. We have to go,” said the leader of the genies to Bandung Bondowoso. All the genies immediately stopped their work and ran for cover from the sun, which they afraid of. They didn’t know that the light was from the fire that burning the straw, not from the sun.
Bandung Bondowoso can’t stop the genies from leaving. He was angry. He knew Loro Jonggrang had just tricked him. “You cannot fool me, Loro Jonggrang. I already have 999 temples. I just need one more temple. Now, I will make you the one-thousandth temple.” He pointed his finger to Loro Jonggrang and said some mantras. Magically, Loro Jonggrang’s body turned into stone. Until now, the temple is still standing in Prambanan area, Central Java. And the temple is called Loro Jonggrang temple.


Terjemahan :


Roro Jonggrang


Lama waktu yang lalu , ada sebuah kerajaan bernama Prambanan . Semua orang dari Prambanan hidup damai . Tapi kemudian , Kerajaan Prambanan diserang dan diduduki oleh kerajaan Pengging . Prambanan kemudian diperintah oleh Bandung Bondowoso Pengging kerajaan . Dia adalah raja berarti . Dia juga memiliki kekuatan gaib yang besar . Tentara -Nya tidak hanya manusia , tetapi juga jin .
Raja Prambanan memiliki seorang putri cantik bernama Loro Jonggrang . Bandung Bondowoso jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya . " Kau sangat cantik . Apakah Anda menjadi ratu saya? " Tanya Bandung Bondowoso . Loro Jonggrang terkejut . Dia tidak suka Bandung Bondowoso karena dia orang yang berarti . Dia ingin menolak , tapi dia takut bahwa Bandung Bondowoso akan marah dan membahayakan orang-orang Prambanan . Kemudian , dia datang dengan rencana. " Jika Anda ingin menikah , Anda harus membangun seribu candi untuk saya hanya dalam satu malam , " kata Loro Jonggrang . " Apa? Itu tidak mungkin! " Kata Bandung Bondowoso . Tapi dia tidak menyerah . Dia berkonsultasi dengan penasihat . " Yang Mulia bisa meminta jin untuk membantu membangun kuil , " kata penasehat .
Jadi , Bandung Bondowoso memanggil jin seluruh prajurit dan memerintahkan mereka untuk membantunya membangun seribu candi . Para jin bekerja dalam kecepatan yang luar biasa . Sementara itu, Loro Jonggrang mendengar dari pelayannya bahwa pembangunan seribu candi itu hampir selesai . Dia sangat khawatir . Tetapi sekali lagi, dia datang dengan ide bagus . Dia meminta semua pelayannya untuk membantunya . " Silahkan persiapkan banyak jerami dan mortir . Tolong cepat sedikit ! " Kata Loro Jonggrang . " Membakar jerami dan membuat beberapa kebisingan berdebar mortir , dengan cepat . " Semua hamba-hamba itu melakukan apa Loro Jonggrang memerintahkan mereka , membakar jerami dan menumbuk lesung , membuat jin berpikir bahwa matahari akan meningkat .
" Ini sudah fajar . Kita harus pergi , " kata pemimpin jin ke Bandung Bondowoso . Semua jin segera menghentikan pekerjaan mereka dan berlari untuk berlindung dari matahari , yang mereka takut . Mereka tidak tahu bahwa terang itu dari api yang membakar jerami , bukan dari matahari .
Bandung Bondowoso tidak dapat menghentikan jin meninggalkan . Dia marah . Dia tahu Loro Jonggrang baru saja menipunya . " Anda tidak bisa membodohi saya , Loro Jonggrang . Saya sudah memiliki 999 candi . Aku hanya perlu satu kuil lagi. Sekarang, saya akan membuat Anda candi satu per seribu . " Dia menunjuk jarinya ke Loro Jonggrang dan mengatakan beberapa mantra . Ajaib , tubuh Loro Jonggrang berubah menjadi batu . Sampai saat ini , candi masih berdiri di wilayah Prambanan , Jawa

Semogah bermanfaat...